Survei itu, kata Andre menjadi sebuah notifikasi atau pemberitahuan bahwa Jokowi-Ma'ruf yang elektabilitasnya cenderung stagnan mulai tamat.
"Intinya apa? Litbang Kompas memberikan pemberitahuan bahwa Pak Jokowi game over," kata Andre di Jakarta, Kamis (21/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemilih Prabowo kan pemilih akal sehat, rasional, sehingga memang yang berpendidikan tinggi memilih Prabowo karena dapat info lebih banyak, lalu mereka lebih rasional," kata dia.
Kalangan menengah atas, kata dia, melihat pembangunan besar-besaran pemerintah yang dibiayai oleh APBN, subsidi, dan obligasi yang kemudian justru bisa memberatkan mereka.
"Menengah ke atas dipikir untuk mendapat pajaknya, ini pula yang kemudian membuat kecenderungan orang menengah ke atas untuk menahan investasinya," kata Fithra.
Alhasil, ketika melihat kecenderungan ini, mereka pun akan berpikir dua kali untuk tidak memilih atau bahkan beralih dukungan.
"Belum lagi kalau kita melihat dari fakta obligasi pemerintah, masih dalam 2014-2018 datanya 10 persen jadi kenaikan rata-rata 15 persen per tahun itu mengakibatkan swasta kekurangan pembiayaan," kata dia.
Petahana, kata dia, memiliki sumber daya untuk memanfaatkan posisinya, termasuk menahan penurunan elektabilitas.
"Saya melihat kecenderungan sistematis. Tapi biar bagaimana pun petahana punya resources dan ya sedikit banyak ini yang bisa mereka lakukan untuk menahan penurunan elektabilitas," ujarnya. (tst/osc)