Survei Kompas, BPN Prabowo Sebut Jokowi Sudah 'Game Over'

CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 19:42 WIB
Survei Kompas, BPN Prabowo Sebut Jokowi Sudah 'Game Over' Capres Prabowo Subianto dan capres Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade merespons survei Litbang Kompas yang menunjukkan selisih elektabilitas Joko Widodo-Ma'ruf Amin dengan Prabowo-Sandi sudah makin tipis.

Survei itu, kata Andre menjadi sebuah notifikasi atau pemberitahuan bahwa Jokowi-Ma'ruf yang elektabilitasnya cenderung stagnan mulai tamat.

"Intinya apa? Litbang Kompas memberikan pemberitahuan bahwa Pak Jokowi game over," kata Andre di Jakarta, Kamis (21/3).


Tak hanya tamat, Andre juga membahas survei Litbang Kompas soal banyaknya pemilih muda dan berpendidikan tinggi yang memilih Prabowo-Sandi. Menurut dia, hal itu juga menunjukkan rata-rata pemilih pasangan calon nomor urut 02 itu adalah orang-orang berakal sehat dan rasional.

"Pemilih Prabowo kan pemilih akal sehat, rasional, sehingga memang yang berpendidikan tinggi memilih Prabowo karena dapat info lebih banyak, lalu mereka lebih rasional," kata dia.

Terkait hal ini Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi pun menyebut alasan banyaknya pemilih muda dan pemilih berpendidikan tinggi cenderung menyumbangkan suaranya untuk Prabowo, yakni karena banyak inkonsistensi dari kebijakan Jokowi.

Kalangan menengah atas, kata dia, melihat pembangunan besar-besaran pemerintah yang dibiayai oleh APBN, subsidi, dan obligasi yang kemudian justru bisa memberatkan mereka.

"Menengah ke atas dipikir untuk mendapat pajaknya, ini pula yang kemudian membuat kecenderungan orang menengah ke atas untuk menahan investasinya," kata Fithra.

Alhasil, ketika melihat kecenderungan ini, mereka pun akan berpikir dua kali untuk tidak memilih atau bahkan beralih dukungan.

"Belum lagi kalau kita melihat dari fakta obligasi pemerintah, masih dalam 2014-2018 datanya 10 persen jadi kenaikan rata-rata 15 persen per tahun itu mengakibatkan swasta kekurangan pembiayaan," kata dia.

Sementara terkait pemilih loyal kubu 01 yang berasal dari menengah ke bawah, Fithra memperkirakan hal ini terjadi karena banyaknya sumber pembiayaan APBN yang memang diperuntukkan bagi mereka.

Petahana, kata dia, memiliki sumber daya untuk memanfaatkan posisinya, termasuk menahan penurunan elektabilitas.

"Saya melihat kecenderungan sistematis. Tapi biar bagaimana pun petahana punya resources dan ya sedikit banyak ini yang bisa mereka lakukan untuk menahan penurunan elektabilitas," ujarnya. (tst/osc)