Survei Ungkap Alasan Undecided Voters Tak Pilih Jokowi

CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 18:10 WIB
Survei Ungkap Alasan <i>Undecided Voters</i> Tak Pilih Jokowi Hasil survei Charta Politica merilis Jokowi tak dipilih lagi di pilpres 2019 karena ingkar janji. (Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga survei Charta Politika membeberkan alasan pemilih tidak memilih pasangan calon 01 Joko Widodo-Maruf Amin dalam Pilpres 2019. Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan tiga alasan utama Jokowi-Ma'ruf tidak di pilih, yakni tidak bisa dipercaya, tidak menepati janji, dan kurang tegas.

"Alasan pemilih tidak memilih Jokowi dan Ma'ruf Amin, jadi ini hanya ditanyakan kepada pemilih Prabowo dan undecided voters. Tiga besarnya menurut saya menarik, ternyata bukan isu agama," ujar Yunarto di Kantor Charta Politika, Jakarta, Senin (25/3).

"Ternyata, satu misalnya berbeda antara ucapan dengan perbuatan atau tidak bisa percaya. Kedua, tidak menepati janji. Ketiga, kurang tegas atau berwibawa," ujarnya menambahkan.


Hasil survei Charta Politika menyebut responden yang menilai Jokowi-Ma'ruf tidak bisa dipercaya sebanyak 16,5 persen, tidak menepati janji sebanyak 14,0 persen, dan kurang tegas atau berwibawa sebanyak 8,3 persen.


Selain itu, sebanyak 7,9 persen pendukung pasangan calon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai hasil kerja paslon tidak bagus, 6,9 persen berpihak kepada asing atau aseng, 5,7 persen tidak menyukai parpol pendukungnya, 5,5 persen karena usia wakilnya yang terlalu tua, 3,5 persen tidak suka programnya, hingga 3 persen tidak berpihak kepada Islam.

Sebanyak 17,8 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab.

Charta Politica: Jokowi Tak Dipilih Karena Ingkar JanjiPendukung Jokowi-Ma'ruf anggap Prabowo-Sandi banyak menyebar berita bohong. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Di sisi lain, Yunarto juga menyampaikan alasan pendukung Jokowi-Ma'ruf dan undecided voters tidak memilih Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019. Yunarto membeberkan sebanyak 16,4 persen menilai paslon 02 tidak berpengalaman, 15,0 persen menilai ambisius, dan 10,1 persen belum mengetahui program kerjanya.

"Jadi kira-kira kalau saya jadi pendukung atau timsesnya Jokowi ngapain ngomongin agamanya Prabowo. Mendingan fokus ke program kerja Jokowi kalau melihat hasil ini," ujarnya.


Hal lain yang melatari pendukung paslon 01 dan undecided voters tak memilih Prabowo-Sandi, yakni banyak menyebar berita bohong (7,6 persen), arogan (6,4 persen), menggunakan segala cara untuk menang (6,2 persen), tidak bisa dipercaya (6 persen), tidak menyukai programnya (4,2 persen), tidak menyukai kelompok/tokoh/ parpol yang mendukungnya (1,7 persen), hingga memecah belah umat Islam (1,5 persen).

"24,0 persen tidak tahu atau tidak jawab," mengutip hasil survei.


Persepsi Publik Terhadap Capres-Cawapres

Survei Charta Politika menyatakan responden menilai Prabowo merupakan capres paling tegas dan berwibawa dengan persentase sebesar 47,0 persen. Sementara Jokowi sebesar 41,4 persen.

Meski kalah soal ketegasan, survei menyebut Jokowi merupakan capres yang paling merakyat, paling toleransi terhadap kaum minoritas (agama/suku), paling mampu memimpin dan mengatasi permasalahan bangsa, serta paling jujur, bisa dipercaya, dan bersih dari korupsi.

"Untuk Kiai Ma'ruf paling religius dan taat beragama. Lalu untuk Sandi tidak ada yang menonjol," ujarnya.


"Dan kalau kita lihat ada insentif besar yang berhasil ditunjukkan oleh Kiai Ma'ruf. Ternyata di pertanyaan yang paling membela umat Islam, Kiai Ma'ruf bahkan mengungguli Prabowo dan Jokowi," ujar Ma'ruf.

Sebelumnya, Charta Politika menyebut elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 53,6 persen dan Prabowo-Sandi sebesar 35,4 persen. Sebanyak 11 persen belum menentukan pilihan.

Temuan itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 1-9 Maret 2019 melalui wawancara langsung dengan metode kuesioner terstruktur terhadap 2.000 responden di 34 provinsi. Survei tersebut diklaim menggunakan metode acak bertingkat dengan margin of error 2,19 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

[Gambas:Video CNN] (jps/DAL)