"Kami sudah musyawarah. Jadi karena ini masih tahun politik, ada kekhawatiran izin tidak keluar, makanya lebih banyak kami sepakat kalau konser tidak dilaksanakan untuk saat ini," ujar panitia penyelenggara, Wahid Asaadi ditemui usai menghadiri persidangan Ahmad Dhani di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (28/3).
Wahid mengaku mulanya setelah rencana konser ini dibatalkan secara mendadak oleh aparat kepolisian pada Minggu (10/3) lalu, timbul keinginan panitia untuk kembali menggelar konser ini pada akhir Maret.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang dulu kami memang urus izin (namun tak dapat rekomendasi balasan). Tapi yang kedua tidak (urus) karena ada kekhawatiran itu (tidak diizinkan)," kata Wahid.
"Ini murni dari penyelenggara. Doakan saja. Jadi sesuatu itu pasti ada hikmah di dalamnya. Insyaallah ada jalan yang terbaik dari Allah, jadi kami terima dengan lapang dada," lanjut dia.
Akibat dibatalkannya konser ini, panitia pun mengaku menderita kerugian dalam jumlah besar. Hal itu lantaran penyelenggara sudah mengeluarkan uang untuk menanggung biaya sewa gedung, sound system, dan masih banyak lagi.
"Kalau rugi ya banyak, itu risiko perjuangan. Iktikad baik awalnya. Sudah ada pembagian tugas (dalam penggantian kerugian)." tegas dia.
Soal kerugian, sebelumnya Ketua Penyelenggara Konser Solidaritas untuk Ahmad Dhani, Didik Darmadi mengaku menelan kerugian besar atas dibatalkannya konser, pada Minggu (10/3) di Surabaya. Didik menyebut kerugian itu antara lain biaya sewa perlengkapan pertunjukan, yakni sound system, lighting, dan venue Grand City Convention Center, Surabaya.
"Sangat-sangat (rugi), ini konser ini tidak ada yang membiayai, tidak ada sponsor, saya (biayai) tunggal, saya sudah habis gak karu-karuan. Rp400 juta kerugian saya," kata Didik.