KPK Sebut Tak Ada Cap Jempol di Amplop 'Serangan Fajar' Bowo

CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 11:55 WIB
Ramai perbincangan ada tanda cap jempol dalam amplop-amplop untuk serangan fajar Pemilu 2019 yang disita dari Bowo Sidik, namun KPK membantahnya. Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat konferensi pers menunjukkan barang bukti suap anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso, 28 Maret 2019 (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengklaim tak terdapat sebuah cap bergambar jempol dalam amplop yang disiapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso untuk Pemilu 2019.

Bowo diduga menyiapkan 400 ribu amplop berisi pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu dengan total Rp8 miliar untuk dibagikan kepada masyarakat saat hari pemilihan alias serangan fajar pada 17 April mendatang.

"Apakah ada cap jempol segala macam ini kami pastikan tidak," kata Basaria di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3) malam.


Basaria mengatakan dari hasil pemeriksaan tim penyidik, uang Rp8 miliar tersebut disiapkan Bowo hanya untuk kepentingan dirinya yang maju sebagai calon legislatif untuk DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah II.

"Untuk sementara dari hasil pemeriksaan tim kami, beliau mengatakan dalam rangka pengumpulan logistik pencalonan dia sendiri sebagai anggota DPR," ujarnya.


Basaria menyebut dari hasil pemeriksaan diketahui uang yang disita dari kantor PT Inersia, perusahaan milik Bowo, bukan untuk kepentingan Pilpres 2019.

"Sama sekali tidak [untuk Pilpres 2019]. Ini hasil pemeriksaan adalah untuk kepentingan dia mencalonkan diri kembali," katanya.

Bowo merupakan kader Partai Golkar. Dalam Pilpres 2019, Golkar mengusung pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. 'Jempol' sendiri adalah simbol yang digunakan pasangan Jokowi-Ma'ruf untuk mengidentifikasi nomor urut peserta dalam pesta demokrasi lima tahunan kali ini.

Bowo sendiri telah dinyatakan dipecat dari Golkar akibat perbuatannya tersebut.

Awak media sempat meminta Basaria dan Juru Bicara KPK Febri Diansyah untuk membuka bagian dalam amplop yang diduga berisi uang itu. Mendapat permintaan itu, Basaria dan Febri sempat berbincang sejenak.

Setelah berdiskusi, Febri menjelaskan membuka barang bukti, dalam hal ini amplop yang diduga berisi uang, harus melalui prosedur dan harus dibuatkan berita acara.

"Jadi kalau dibuka ada prosedur tertentu sampai dibuat berita acara dan hal-hal lain yang tentu saja tidak mungkin dilakukan langsung di ruangan ini," kata Febri.

KPK Sebut Tak Ada Cap Jempol di Amplop 'Serangan Fajar' BowoBowo Sidik Pangarso keluar dari Gedung Merah Putih KPK dengan mengenakan rompi oranye setelah diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jakarta, Kamis 28 Maret (CNN Indonesia/Andry Novelino)


Febri mengatakan ketika tim penyidik KPK mengamankan uang dan menghitung uang tersebut perlu disaksikan oleh pihak yang memiliki uang tersebut.

"Dalam kondisi konferensi pers seperti ini tentu tidak memungkinkan," ujarnya.

Bowo sendiri tak menjawab saat ditanya apakah amplop yang dirinya persiapkan tersebut juga untuk kepentingan pemenangan Jokowi-Ma'ruf.

Ia menutup rapat mulutnya sampai berada di dalam mobil tahanan.

Bowo bersama Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti dan karyawan PT Inersia, Indung ditetapkan sebagai tersangka suap kerja sama distribusi pupuk PT PILOG dengan PT HTK.

Bowo diduga meminta fee kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$2 per metric ton. Diduga telah terjadi enam kali penerimaan di sejumlah tempat sebesar Rp221 juta dan US$85.130.

Uang sekitar Rp8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu telah dimasukkan dalam amplop-amplop. Uang tersebut diduga bakal digunakan Bowo untuk 'serangan fajar' Pemilu 2019.


[Gambas:Video CNN] (fra/kid)