Luhut Imbau Pilih 01 atau 02 tapi Tidak Berdasarkan Hoaks

CNN Indonesia | Minggu, 31/03/2019 08:25 WIB
Menko Maritim Luhut Pandjaitan menilai perbedaan pilihan dalam Pilpres 2019 sebagai proses demokrasi. Namun dia mengingatkan agar tak memilih berdasarkan hoaks. Menko Maritim Luhut Pandjaitan menilai perbedaan pilihan dalam Pilpres 2019 sebagai proses demokrasi. (CNN Indonesia/Harvey Darian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau masyarakat untuk memilih calon presiden dan wakil presiden 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin atau pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Namun, Luhut meminta masyarakat memilih salah satu pasangan kandidat itu tidak berdasarkan kabar bohong alias hoaks.

"Mau pilih 01 atau 02 itu hak demokrasi kita, tapi jangan berangkat memilih itu dari informasi hoaks atau informasi yang fitnah. Jangan begitu, harus jernih," kata Luhut usai Debat Pilpres 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3) malam.


"Perbedaan itu biasa sebagai bagian dari sebuah demokrasi," ujar Ketua Dewan Pembina Tim Bravo-5 itu.


Luhut meminta masyarakat lebih dewasa menggunakan media sosial. Menurut pensiunan jenderal bintang empat itu kaum intelektual harus memberikan contoh baik memanfaatkan media sosial.

"Memang ada socmed karena socmed itu jadi kelihatannya, bukan menyalahkan, kita harus lebih dewasa ber-socmed itu. Terutama intelektual-intelektualnya itu," tutur Luhut.

Luhut lantas mencontohkah sejumlah informasi hoaks yang disebarkan oleh masyarakat, antara lain soal utang luar negeri hingga tenaga kerja asing (TKA).


"Jadi kita kadang mempublikasi berita bohong yang tidak benar. Misalnya, tenaga kerja asing lah, utang lah, itu kan sama sekali tidak benar. Kita hitung dengan baik," kata dia.

Sebelumnya, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pramomo Ubaid Tanthowi menyebut hoaks saat ini menjadi strategi kampanye dari tim sukses Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019.

Menurut dia, hoaks saat ini sengaja diproduksi kedua timses untuk menjatuhkan kandidat lawan.

"Dilakukan oleh kedua belah pihak dalam konteks pilpres kita. Jadi memang dimanipulasi untuk membenci kandidat lawan karena informasi bohong itu disebarluaskan secara masif. Hoaks itu saat ini sudah menjadi strategi kampanye," ujar Pramono dalam diskusi di Aula Dakwah Pusat Muhammadiyah, Jumat (29/3).


[Gambas:Video CNN] (fra/pmg)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK