Namun, Luhut meminta masyarakat memilih salah satu pasangan kandidat itu tidak berdasarkan kabar bohong alias hoaks.
"Mau pilih 01 atau 02 itu hak demokrasi kita, tapi jangan berangkat memilih itu dari informasi hoaks atau informasi yang fitnah. Jangan begitu, harus jernih," kata Luhut usai Debat Pilpres 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luhut meminta masyarakat lebih dewasa menggunakan media sosial. Menurut pensiunan jenderal bintang empat itu kaum intelektual harus memberikan contoh baik memanfaatkan media sosial.
Luhut lantas mencontohkah sejumlah informasi hoaks yang disebarkan oleh masyarakat, antara lain soal utang luar negeri hingga tenaga kerja asing (TKA).
"Jadi kita kadang mempublikasi berita bohong yang tidak benar. Misalnya, tenaga kerja asing lah, utang lah, itu kan sama sekali tidak benar. Kita hitung dengan baik," kata dia.
Sebelumnya, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pramomo Ubaid Tanthowi menyebut hoaks saat ini menjadi strategi kampanye dari tim sukses Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019.
Menurut dia, hoaks saat ini sengaja diproduksi kedua timses untuk menjatuhkan kandidat lawan.
"Dilakukan oleh kedua belah pihak dalam konteks pilpres kita. Jadi memang dimanipulasi untuk membenci kandidat lawan karena informasi bohong itu disebarluaskan secara masif. Hoaks itu saat ini sudah menjadi strategi kampanye," ujar Pramono dalam diskusi di Aula Dakwah Pusat Muhammadiyah, Jumat (29/3).
[Gambas:Video CNN] (fra/pmg)