Beda Pertahanan ala Jokowi dan Doktrin Lama Prabowo

CNN Indonesia | Minggu, 31/03/2019 15:30 WIB
Beda Pertahanan ala Jokowi dan Doktrin Lama Prabowo Calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto mengikuti debat keempat Pilpres 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo lebih banyak bicara soal keamanan siber saat debat capres keempat di Hotel Shangri-la, Jakarta, Sabtu (30/1). Sementara Prabowo Subianto, lebih sering bicara soal pertahanan yang mengedepankan alutsista mutakhir.

Jokowi menganggap tantangan Indonesia berkenaan dengan perkembangan teknologi. Dia mengklaim pemerintah telah memasang belasan radar strategis yang saling terkoneksi.

Prabowo pun sependapat. Namun, menurut dia, alutsista pertahanan dan keamanan juga harus ditingkatkan. Kata dia, pertahanan Indonesia saat ini masih sangat lemah dan jauh dari harapan. Prabowo agak gusar ketika pendukung Jokowi menertawakannya kala berbicara hal itu.


Pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai Jokowi dan Prabowo tidak sepatutnya bertentangan pandangan mengenai keamanan siber dan alutsista konvensional. Menurut Khairul, keduanya sama penting di masa modern seperti sekarang ini.


"Ini sebenarnya bukan soal mana yang urgen dan tidak. Tidak dapat dipertentangkan," kata Khairul saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu malam (30/3).

Di era pesatnya perkembangan teknologi, ancaman terhadap kedaulatan negara cenderung beragam. Mayoritas di antaranya bersifat non-militer. Penguatan pada penguasaan teknologi termasuk aspek yang penting. Pertahanan siber salah satunya.

Di sisi lain, menurut Khairul, perang di masa mendatang akan lebih bersifat hibrida dan asimetris. Berangkat dari asumsi itu, dia menilai keliru jika alutsista konvensional diabaikan.

"Apakah ini berarti kesiapan alutsista konvensional tidak prioritas? Tentu prioritas," kata Khairul.


Terkait konflik di dalam negeri, Khairul mengatakan ancaman kedaulatan dari dalam negeri tetap harus diwaspadai. Misalnya, gerakan separatisme atau konflik sosial.

"Masih sangat membutuhkan postur pertahanan keamanan yang kuat, ditandai kesiapan alutsista dan almatsus tadi," ucap Khairul.

Beda Pertahanan Jokowi dan Doktrin Lama PrabowoParade Alutsista TNI saat peringatan ke-70 Hari TNI 2015 di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Sementara pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menganggap wajar Prabowo lebih lantang bicara soal alutsista konvensional. Menurut Adi, Prabowo ingin menunjukkan kepada Jokowi bahwa dirinya adalah mantan jenderal bintang tiga.

Prabowo bersikap demikian bukan semata-mata peduli pada kondisi pertahanan dan keamanan dalam negeri. Adi menyebut Prabowo memang berusaha mengoptimalkan tema debat pertahanan dan keamanan.

"Ingin menunjukkan superioritasnya sebagai mantan tentara, bahkan menyalahkan 01 ini pembisiknya salah," kata Adi.

Adi mengamini bahwa Prabowo sepakat dengan apa yang diutarakan Jokowi. Misalnya terkait pemasangan radar strategis di berbagai wailayah.

Namun, menurut Adi, capres nomor urut 02 itu seolah tampak lebih memprioritaskan pembangunan alutsista. Adi menegaskan Prabowo adalah tentara yang besar di era Orde Baru. Dengan begitu, cara pandangnya pun masih kental ketentaraan gaya lama.

Menurutnya, Prabowo ingin menunjukkan kepada publik bahwa dirinya peduli terhadap sektor-sektor yang harus dilindungi. Meski saat ini era digital dan industrialisasi, Prabowo tetap menganggap alutsista konvensional tidak kalah penting dibanding investasi dan keuntungan ekonomi.

"Pola pikir prabowo memang masih doktrin tentara yang lama," ucap Adi.


[Gambas:Video CNN] (bmw/pmg)