Rizal Ramli Sindir Jokowi Sering Pantau Proyek Seperti Mandor

CNN Indonesia | Minggu, 31/03/2019 20:46 WIB
Rizal Ramli Sindir Jokowi Sering Pantau Proyek Seperti Mandor Presiden Jokowi saat meninjau proyek infrastruktur. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyindir Presiden Joko Widodo yang kerap memantau proyek di masa pemerintahannya. Rizal menyatakan, Jokowi seperti mandor karena kerap mengunjungi proyek tersebut.

Rizal juga menyebut Jokowi pantas jadi Menteri Pekerjaan Umum jika nanti Prabowo Subianto terpilih menjadi Presiden RI di Pilpres 2019.

Ia mengakui Jokowi selama ini memang all out dalam pembangunan proyek infrastruktur.


"Saking all out-nya, untuk satu proyek infrastruktur itu dia [Jokowi] pantau 8 kali. Kaya mandor proyek saja. Saya akan usul untuk Pak Widodo supaya sehabis pilpres, kalau bisa ditunjuk jadi Menteri PU," kata Rizal saat menghadiri Deklarasi Alumni Perguruan Tinggi se-Sumatera Selatan Pendukung 02 di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (31/3).


Namun di sisi lain, Rizal mengkritik langkah Jokowi di bidang ekonomi secara keseluruhan. Jokowi menurutnya juga tidak pernah menjelaskan rencana strategi baru di bidang ekonomi.

"Yang ada dia selalu menjelaskan apa yang telah dikerjakan, mengaku-ngaku prestasi orang lain sebagai prestasi dia," kata Rizal.

Ia mencontohkan kapal selam Ardadedali yang dibanggakan oleh Jokowi saat debat Sabtu (30/3) malam bukan diinisiasi oleh Jokowi, melainkan pada masa  Susilo bambang Yudhoyono.
Rizal Ramli Sindir Jokowi Sering Pantau Proyek Seperti MandorMantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli. (CNN Indonesia/Harvey Darian)

Janji Naik 8 Persen di Era Prabowo

Dalam kesempatan yang sama Rizal Ramli juga percaya bahwa Prabowo Subianto bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen per tahun.

Selain itu, Rizal Ramli juga menegaskan Prabowo akan menurunkan harga listrik dan daging dalam waktu 100 hari kerja pertama bila terpilih menjadi presiden.

Menurutnya beberapa strategi telah dipersiapkan Prabowo. Salah satu strateginya adalah meningkatkan gaji pegawai negeri sipil untuk mengerek daya beli masyarakat.

Hal ini yang juga dilakukan oleh Presiden Abdurrahman Wahid di mana Rizal menjadi Menko Perekonomian.

"Gus Dur menaikkan gaji PNS 125 persen dalam 21 bulan. Pak Widodo [Jokowi] hanya bisa menaikkan gaji PNS 5 persen dalam 4 tahun," ujar Rizal.


Dirinya menjelaskan, setiap tahun inflasi nasional berkisar antara 3-4 persen setiap tahunnya. Bila diakumulasikan selama 4 tahun, maka inflasi keseluruhan berkisar antara 12 persen. Dengan begitu, daya beli masyarakat malah anjlok sebesar 7 persen selama Jokowi menjadi presiden.


Beberapa langkahnya yakni menurunkan tarif listrik 450 VA dan 900 VA yang digunakan oleh kurang lebih 60 juta masyarakat Indonesia kalangan menengah. Pengurangan tarif tersebut, diklaim akan menghemat pengeluaran setiap bulannya sebesar Rp500-600 ribu per keluarga.

Kemudian menurunkan harga pangan, khususnya daging dan gula yang diklaimnya bisa menghemat biaya belanja Rp50 ribu per hari atau Rp1,5 juta per bulan, per keluarga.

"Dengan begitu ada penghematan Rp2 juta perbulan, akhirnya mereka akan punya daya beli. Ekonomi akan tumbuh kembali, sektor ritel akan hidup. [Pertumbuhan] ekonomi otomatis nambah 1 persen," ujar Rizal.

Kemudian, rencana berikutnya yakni Prabowo akan mencanangkan pembangunan 1 juta unit rumah untuk rakyat per tahun. Dirinya membandingkan pemerintahan Jokowi yang hanya sanggup membangun 320 ribu unit rumah. Berdasarkan perhitungan dirinya, program tersebut akan menambah 3,5 juta lapangan kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,5 persen.

"Dari itu saja, sudah 7,5 persen. Belum rencana mengembangkan 1 juta hektare lahan sawah dan lain-lain," kata Rizal Ramli. (idz/sur)