"Pada kesempatan ini saya mengajak semua masyarakat Indonesia mari mengajak kepada bapak presiden untuk mau peduli dibentuk tim pencari fakta," kata Novel dalam peringatan dua tahun kasus penyiraman air keras terhadap dirinya, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (11/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya membentuk tim gabungan untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel pada 8 Januari 2019. Pembentukan tim itu untuk menindaklanjuti rekomendasi Komnas HAM.
Novel mengaku tidak keberatan dengan tim gabungan yang dibentuk oleh polisi. Namun ia menegaskan bahwa tim itu harus mengikutsertakan orang-orang yang punya kompetensi yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.
"Tentu dari Polri tidak ada masalah bila ada di tim itu. Tetapi tim ini harus membuka diri melibatkan semua orang-orang yang kompeten, orang-orang yang berintergritas, orang-orang yang bekerja dengan objektif, memiliki track record yang baik," paparnya.
Serupa dengan Novel, Yudi juga menuntut presiden untuk berbuat lebih dalam melindungi KPK dari segala bentuk teror.
"Menuntut Presiden RI untuk bersikap tegas dan terang memerangi teror serta pelemahan terhadap KPK," ujar Yudi dari atas panggung.
Tak lupa, Yudi meminta Jokowi untuk tak menunda pembentukan tim gabungan pencari fakta yang independen.
[Gambas:Video CNN] (bin/arh)