Hal itu disampaikan putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut, dalam Pidato Kebangsaan yang berjudul Indonesia untuk Semua, di DBL Arena, Surabaya, Sabtu (13/4).
"Sikap saling tuding antar kelompok yang menggunakan narasi identitas seperti, antara pro kebinekaan dan pro Islam, pro NKRI dan pro khilafah, atau pro Pancasila dan anti Pancasila. Seolah kian merenggangkan hubungan kita sebagai sesama anak bangsa," kata dia.
Penggunaan narasi-narasi yang bisa memicu polarisasi itu kata AHY, sudah terjadi sejak lama. Bahkan sejak Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017 lampau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buntutnya, kata AHY, sikap saling curiga terus tercipta, sikap saling benci kian mengental, bahkan, menurut dia, hal itu sampai mengakibatkan kontak fisik antar para pendukung capres di sejumlah daerah.
AHY mengatakan bahwa ayahnya yang juga Ketua Umum Partai Demokrat sudah memberikan titah kepada seluruh kader partai untuk senantiasa berkomitmen pada empat pedoman dasar. Yakni, menjaga NKRI, merawat kebinekaan, menegakkan keadilan, serat mengutamakan rakyat,
SBY, kata dia, juga telah mengingatkan bahwa calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terpilih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh.
Sebaliknya, jika pemimpin tersebut mengedepankan politik identitas, atau gemar menghadapkan identitas satu dengan yang lain, dan menarik garis pembeda yang tebal antara kawan dan lawan, maka hampir dipastikan itu adalah pemimpin rapuh.
"Kita semua berkeyakinan, baik Pak Prabowo Subianto dan Pak Joko Widodo bukanlah calon pemimpin yang berniat untuk membentur-benturkan identitas masyarakatnya sendiri. Kita sendiri semua yakin keduanya juga memiliki komitmen untuk senantiasa menjaga keutuhan bangsa," katanya.
[Gambas:Video CNN]
(frd/dea)