Takut Dibungkam, Said Didu Enggan Lapor Polisi Soal Peretasan

ray, CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 00:24 WIB
Takut Dibungkam, Said Didu Enggan Lapor Polisi Soal Peretasan Said Didu, Mantan staf khusus Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) era Joko Widodo, Said Didu berpikir dua kali membawa kasus peretasan akun Twitternya ke pihak berwajib. Berkaca pada pengalaman laporan rekannya yang belum dituntaskan, ia menganggap laporan itu sia-sia. Selain itu, ia pun takut 'dibungkam' pemerintah jika membuat laporan atas kasus itu.

Sebab, berdasarkan pengalaman rekannya yang lebih dulu melapor, penegak hukum akan meminta kata sandi seluruh media sosial pribadi, email, termasuk telepon genggam.

"Sehingga, kalau di laporkan malah itu kami tidak bebas lagi bermain atau bersuara lewat media sosial. Malah nomor HP juga diminta semua [...] Tapi, semua yang melaporkan itu tidak pernah ada yang berhasil," kata Said Didu saat ditemui di bilangan Jakarta Selatan, Minggu (14/4).


"Tapi saya sedang pikirkan jalannya seperti apa. Karena ini harusnya penegak hukum hadir, negara hadir melindungi warganya apabila mengalami hal seperti ini," ujar Said lagi.

Said mengaku bukannya pesimistis terhadap pemerintah. Namun jika harus memberi akses penuh terhadap akun pribadinya kepada penegak hukum tentu ke depan akan merepotkan.

"Saya menyatakan, saya masih berupaya optimis (kepada penegak hukum), makanya saya berpikir apakah perlu saya laporkan. Akun saya pun satu tidak pernah ada anonim dan saya pertanggungjawabkan semua apa namanya yang ada di akun saya," ungkapnya.


Peretasan pendukung 02

Peretasan akun media sosial pribadi bukan hanya pernah dirasakan Said. Sebagai sesama tokoh pendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, akun Haikal Hasan, Ferdinand Hutahaean, JS Prabowo, Mustofa Nahrawardaya, dan Dahlan Iskan juga mengalamai hal serupa. Menurut Said terkait hal tersebut biar menjadi penilaian masyarakat.

"Publik bisa melihat bahwa memang ada terjadi, istilah saya diskriminasi penegakan hukum. Karena hampir semua yang diserang adalah orang-orang yang dianggap tokoh-tokoh yang dekat dengan 02," kata dia.

Ia menyebut kasus peretasan Dahlan Iskan menjadi contoh paling nyata. Usai menyatakan dukungan terhadap pasangan calon nomor dua, diketahui akun pribadi Dahlan diambil alih dan hingga saat ini tak bisa diambil kembali.

"Langsung akun Twitter yang followersnya 2,2 juta diambil alih. Tapi untungnya tidak memention apa-apa. Tapi, Pak Dahlan Iskan sampai detik ini tidak bisa mengambil alih akun nya kembali," ucap Said.

Ia juga menilai bahwa pertasan akun sebagian tokoh pendukung pasangan oposisi sebagai upaya membungkam kebenaran.

"Saya ulangi akun saya memang spesialis kan adalah untuk membuka informasi yang sebenar-benarnya, istilah saya membongkar kebohongan kebohongan publik yang disampaikan supaya publik memahami apa yang sebenarnya terjadi," ucap Said Didu. (eks)