Pelaku Mutilasi Punya Hubungan Asmara dengan Guru di Kediri

CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 17:40 WIB
Pelaku Mutilasi Punya Hubungan Asmara dengan Guru di Kediri Aris Sugianto (34) dan Azis Prakoso (22), pelaku pembunuhan disertai mutilasi terhadap Budi Hartanto (28) guru honorer asal Kediri, Jatim, mengaku menyesali perbuatannya. (CNN Indonesia/Farid)
Surabaya, CNN Indonesia -- Dua pelaku pembunuhan disertai mutilasi terhadap Budi Hartanto (28) guru honorer asal Kediri, Jatim, Aris Sugianto (34) dan Azis Prakoso (22) mengaku menyesali perbuatan kejinya.

Salah satu pelaku, Aris yang diketahui sebagai teman dekat korban, sampai terisak dan menitikkan air matanya saat membuat pengakuan.

"Saya ingin menyampaikan kepada keluarga korban, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya gak ada rasa tega, saya spontan saja," kata Aris, sembari terisak, di hadapan awak media, Senin, (15/4).


Aris juga sempat mendoakan agar almarhum Budi diampuni segala dosanya, hingga mendapatkan tempat yang terbaik di sana.

"Di sini hanya bisa menyesal dan menangis semoga arwah diampuni dosa-dosanya serta ditempatkan dengan orang-orang yang beriman, amin," ujar dia.

Tak hanya Aris, pelaku lain, yakni Azis juga mengaku menyesali perbuatannya. Ia menyebut, dirinya di bawah pengaruh emosi saat melakukan pembunuhan terhadap korban.

"Saya sungguh-sungguh sangat menyesal. Saya minta maaf sebesar-besarnya. Saya emosi," kata Azis.

Azis mengaku sebenarnya tak kenal dengan korban. Ia hanya membantu Aris.

Wakil Kapolda Jawa Timur Brigjen Pol Toni Harmanto mengungkap motif pembunuhan yang dilakukan pada sebuah warung kopi, di Jalan Surya Kabupaten Kediri, itu perselisihan hubungan asmara antara pelaku Aris dengan korban.

Toni mengatakan bahwa korban dan tersangka Aris sudah beberapa kali melakukan hubungan badan suka sama suka. Ia menyebut hubungan itu dilakukan sebanyak empat kali.

"Hubungan asmara sebanyak tiga kali. Ini kali keempat (terus terjadi pembunuhan)," ujar Toni, ditemui di lokasi yang sama.

Kendati didasari dengan suka sama suka, Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Gupuh Prasetyo, mengatakan Aris juga kerap kali memberikan sejumlah uang senilai Rp100 ribu.

"Kali berhubungan ia mengatakan sayang kepada korban sehingga ia meminta apa yang diminta korban. Suka sama suka setiap ada korban meminta dikasih," kata Gupuh.

Uang itu disebut Gupuh biasanya diberikan Aris kepada Budi seusai mereka berhubungan badan. Namun di kali ke-4 ini Aris tak memberikan uang tersebut kepada korban.

Budi yang mendapati dirinya tak mendapat uang tunai dari Aris, lantas emosi dan memaki pelaku. Di tengah perselisihan, tersangka lain, yakni Azis, mengetahui hal itu, kemudian berusaha menengahi.

Pertikaian pun terjadi, Budi yang tak terima kemudian menampar dan berusaha menyabet pelaku dengan parang, namun Azis berhasil menangkisnya dan justru membalas serangan tersebut.

Azis yang berhasil merebut parang tersebut lantas menyabetkan beberapa kali bacokan ke tubuh Korban. Budi kemudian tersungkur hingga kehilangan nyawanya.

"Azis menyabetkan (parang) ke lengan kiri, korban teriak dianiaya sampe tertelungkup dan di situ dilakukan pembacokan berkali kali oleh saudara Azis dibantu Oleh Aris," kata Gupuh.

Setelah itu, kata Gupuh, Aris bersama Azis kemudian memasukkan jasad korban yang sudah tak bernyawa ke koper. Namun, ternyata koper tersebut tak cukup, maka kemudian dipotonglah kepala Budi.

"Pada saat (korban) sudah meninggal dunia itu, mau dimasukkan ke koper namun tidak cukup. Dikeluarkan lagi, lalu Aris mendorong di potong saja kepalanya," ujar Gupuh.

Tubuh korban yang berada di dalam koper itu pun lantas dibuang di bawah jembatan Karang Gondang, Blitar. Sementara kepala Budi yang terbungkus kantong kresek, dibuang di bantaran sungai Ploso Kerep, Kediri.

Dari tangan tersangka polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti seperti golok, pisau besar, koper, telepon gengam, hingga sepeda motor.

Atas perbuatannya, kedua tersangka kini terjerat pasal 340 KUHP sub pasal 338 KUHP dan 365 ayat (3) KUHP. Ancaman hukuman pidana penjara seumur hidup. (frd/wis)