"Quick count itu akan hilang sendirinya kalau sistem perhitungan suara Pemilu secara cepat," kata Adji dalam sebuah diskusi di restoran D'consulate, Jakarta, Sabtu (20/4).
Usulan penghilangan perhitungan cepat muncul setelah calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, menyatakan sejumlah lembaga survei berpihak dan perhitungan cepat tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Prabowo tak lama setelah pencoblosan mendeklarasikan kemenangannya dengan perhitungan riil tim internal dirinya unggul 62 persen dari Jokowi-Maruf.
"Karena ini sejarahnya sebagai alat pembanding perhitungan suara di negara berkembang atau negara dengan transisi demokrasi. Atas kekhawatiran penyelenggaranya ada problem," ucapnya.
Sehingga, perhitungan cepat lembaga survei diyakini tak akan dibutuhkan lagi jika sistem perhitungan Pemilu nasional sudah canggih dan bisa cepat diakses masyarakat.
[Gambas:Video CNN]
Hasil perhitungan suara resmi versi Komisi Pemilihan Umum baru disampaikan kepada publik pada 22 Mei mendatang. (chr/ayp)