Erick Thohir Potong Tumpeng Syukuran Klaim Kemenangan Jokowi

CNN Indonesia | Minggu, 21/04/2019 17:48 WIB
Erick Thohir Potong Tumpeng Syukuran Klaim Kemenangan Jokowi Ketua Umum TKN Erick Thohir menyampaikan Jokowi-Amin mengungguli Prabowo-Sandi dengan perolehan suara di atas 55 persen. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Kampanye Milenial Jokowi-Amin menggelar acara Syukuran Kemenangan Pasangan Capres dan Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019. Acara ini bertajuk "Panggung Gemb1ra Menyongsong Indonesia Maju".

Mereka yang hadir kompak mengenakan pakaian berwarna putih. Acara ini dibuka dengan penampilan disk jockey (DJ) G-Neral. Para relawan larut dalam dentuman musik sambil melakukan "goyang jempol".

Ketua Umum Tim Kampanye Nasional (TKN) Erick Thohir ikut hadir dan memotong tumpeng di acara tersebut. Begitu pula dengan Ketua Direktorat Milenial TKN Bahlil Lahadalia juga likut memeriahkan acara.


Erick menjelaskan hitung suara C1 menunjukkan Jokowi-Amin menang lebih dari 55 persen. Ia menyatakan hasil itu bukan klaim semata.


"Insya Allah kita ini bukan pendusta, kita bukan pembohong. Saya setuju dengan adinda saya saudara Bahlil, data-data kami menunjukkan kami menang di 55 persen ke atas," kata Erick saat menyampaikan pidato di SCBD, Jakarta Selatan, Minggu (21/4).

Erick mengklaim data yang dipegang pihaknya berdasarkan data dan fakta. Menurutnya, hasil quick count dan real count hasilnya harus sama. "Kami harus jaga kemenangan ini karena ini ke arah yang benar," ujarnya,

Dalam pidatonya, Bahlil menyampaikan pihaknya mendapat bocoran perhitungan C1 yang dikerjakan oleh TKN.

"Menurut tim data kami yang sudah masuk, C1 sudah masuk 94 persen. Dari 94 persen itu, kami memenangkan 55,2 persen. Ini sudah menang, tinggal tunggu waktu saja," kata Bahlil.


Meski begitu, Bahlil mengingatkan relawan agar tetap menunggu hasil real count Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei mendatang. Ia meminta pendukung Jokowi-Amin untuk menjaga suasana agar tetap kondusif.

"Kita harus menjadikan pak Jokowi sebagai contoh, kenegarawaan beliau. Sekalipun beliau sudah menang, tapi tetap menyatakan kita tunggu KPU," kata Bahlil.

Erick Thohir Potong Tumpeng Syukuran Klaim Kemenangan JokowiKetua Tim Kampanye Nasional (TKN) Erick Thohir (kiri) dan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto (kanan). CNN Indonesia/Hesti Rika)
Angka Klaim Kemenangan

Pada kesempatan berbeda, Sekretaris Jendral PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto merilis rekapitulasi internal TKN. Dia mengatakan Jokowi-Ma'ruf mengungguli Prabowo-Sandi dengan raihan suara 56,74 persen.

"Berdasarkan rekapitulasi secara berjenjang berdasarkan dokumen C1 yang dilakukan Tim Kampanye Nasional 01, dan Badan Saksi Pemilu Nasional PDI Perjuangan, semakin memastikan kemenangan bagi Jokowi-KH Ma'ruf Amin dan PDI Perjuangan," kata Hasto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/4).

Hasto menyebut Jokowi-Ma'ruf meraih angka 56,74 persen dan Prabowo-Sandi meraih suara 43,26 persen. Angka ini didapat dari total C1 yang masuk sebanyak 119.141 buah. Sementara hasil perolehan suara PDIP dalam pemilihan legislatif didapat berkisar 21,3 persen hingga 22,8 persen.


Angka ini disebut Hasto tak jauh berbeda dengan hasil hitung cepat dari sejumlah lembaga survei lainnya yang telah merilis kemenangan Jokowi-Ma'ruf. Atas kemenangan ini pula Hasto mengatakan masih ada elite politik yang berusaha mendeligitimasi penyelenggara pemilu.

Ia mengingatkan agar para elite menjaga suasana kondusif pascapilpres. Di samping itu, Hasto mengingatkan agar setiap klaim kemenenangan harus disertai dengan data.

"Para elite politik sebaiknya ikut menjaga suasana kondusif. Klaim terhadap hasil perolehan suara boleh saja, namun harus disertai data, dan keberanian untuk menampilkan dapur pusat perhitungannya," ujarnya.

Hasto mengatakan transparansi data sudah dilakukan PDIP di depan publik. Dia berharap agar kelompok penantang juga melakukan hal yang sama membuka data ketika mengklaim kemenangan.

"PDI Perjuangan sudah menunjukkan di depan pers bagaimana sistem penghitungan suara, kamar hitung, dan infrastruktur sistem penghitungan sebagai bagian dari transparansi dan akuntabilitas publik. BPN dan Partai Gerindra hingga saat ini belum menunjukkan hal itu," kata Hasto.

(adp/pmg)