Tjahjo Panggil Bupati Madina yang Mundur karena Jokowi Kalah

CNN Indonesia | Senin, 22/04/2019 17:42 WIB
Tjahjo Panggil Bupati Madina yang Mundur karena Jokowi Kalah Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menegaskan bakal memanggil bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution soal pengunduran diri karena kalah di Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah Sumatra Utara terkait surat pengunduran diri yang diajukan Bupati Mandailing Natal (Madani) Dahlan Hasan Nasution. Dahlan diketahui mundur dengan alasan politis, karena Jokowi-Ma'ruf kalah dari Prabowo-Sandi di wilayah yang dipimpinnya.

"Nanti akan kami panggil, karena ini sebuah proses yang tidak lazim. Dia seorang bupati yang cukup berhasil di daerahnya, kenapa hanya masalah politis pertimbangannya dia mundur," kata Tjahjo usai rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/4).

Saat ditanya apakah dirinya akan menyarankan kepada Dahlan untuk mengurungkan niat mundur, Tjahjo menyatakan belum sampai ke sana. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mengatakan bakal memberikan saran terbaik untuk Dahlan.


"Nanti akan kami undang dulu dengan gubernur. Kira-kira untuk memberi saran yang terbaik," ujarnya.


Menurut Tjahjo, alasan Dahlan mundur memang semata-mata hanya karena perolehan suara Jokowi-Ma'ruf kalah dari Prabowo-Sandi di wilayah Kabupaten Madani dalam Pilpres 2019. Padahal, kata Tjahjo, Dahlan diusung sejumlah partai politik saat maju mencalonkan diri.

"Kan membutuhkan proses yang panjang. Ada amanah dari masyarakat, masa hanya karena itu (mundur)," katanya.

Sebelumnya, Dahlan mengundurkan diri dari jabatan bupati Madina karena menganggap hasil pemilu di wilayahnya sangat mengecewakan. Perolehan suara Jokowi-Ma'ruf disebut kalah dari Prabowo-Sandi di Kabupaten Madani.

Berdasarkan sistem penghitungan. KPU mencatat hasil perolehan suara sementara pada Minggu (21/4) pukul 19.00 WIB, pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih perolehan suara mencapai 79,99 persen. Namun Jokowi-Ma'ruf Amin hanya 20,01 persen.

Surat pengunduran diri tertanggal 18 April 2019 itu beredar ke publik pada Minggu (21/4). Surat tersebut ditujukan kepada Presiden RI d.p Menteri Dalam Negeri. Saat dikonfirmasi, Dahlan membenarkan telah mengajukan surat pengunduran diri tersebut. Namun dia enggan menjelaskan lebih lanjut alasannya.

"Iya benar (surat itu)," kata Dahlan lewat sambungan telepon, Minggu (21/4).


Dalam surat itu, Dahlan menyampaikan pelaksanaan pemilu di Madina Sumut berjalan lancar, aman dan terkendali. Namun hasilnya sangat mengecewakan dan tidak seperti yang diharapkan.

Dia menuturkan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, pembangunan di Madina cukup signifikan. Sayangnya, kata Dahlan, hal itu belum bisa mengubah pola pikir masyarakat dalam mendukung pembangunan. Dahlan pun menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Presiden Jokowi.

"Dan sebagai ungkapan rasa tanggung jawab atas ketidaknyamanan ini dengan segala kerendahan hati izinkan kami menyampaikan permohonan untuk berhenti sebagai Bupati Madina," tulis Dahlan dalam surat tersebut.


Lahan Prabowo sejak Pilpres 2014
Seperti diketahui, Mandailing Natal merupakan wilayah yang secara administrasi masuk pemerintahan provinsi Sumatra Utara. Merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan sebelum 1998.

Berdasarkan 'selayang pandang' yang disiarkan laman pemerintah setempat, Mandailing Natal merupakan wilayah yang menjadi saksi sejarah Perang Paderi, menjadi basis pondok pesantren yang mengirim banyak pasukan santri saat perang bergejolak.

Secara geografis, Mandailing Natal berbatasan dengan Sumatra Barat di wilayah Utara, basis kuat Prabowo sejak Pilpres 2014. Selain dimukimi penduduk asli Tapanuli, sejumlah wilayah pesisir juga dihuni banyak orang Minang, Jawa dan Sunda.

Sejak Pilpres 2014, Mandailing Natal merupakan lahan produktif untuk suara Prabowo. Berdasarkan catatan KPU pada Pilpres 2014, Joko Widodo yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih 47.046 suara (24 persen), sedangkan Prabowo-Hatta saat itu mendulang 150.048 suara atau setara 76 persen suara.

[Gambas:Video CNN]


(fra/ain)