Tompi Soal Hanum Rais Sempat Bela Ratna: Di Situ Konyol Saja

CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 01:29 WIB
Tompi Soal Hanum Rais Sempat Bela Ratna: Di Situ Konyol Saja Dokter ahli bedah plastik Teuku Adifitrian alias Tompi mengkritisi kapasitas Hanum Rais yang sempat benarkan penganiayaan Ratna Sarumpaet. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dokter bedah plastik sekaligus musikus Teuku Adifitrian alias Tompi mempertanyakan kapasitas putri politikus PAN Amien Rais, Hanum Rais, yang mengaku pernah memeriksa dan membenarkan penganiayaan terhadap terdakwa kasus hoaks Ratna Sarumpaet.

Hal itu disampaikan pelantun tembang 'Menghujam Jantungku' itu di persidangan lanjutan kasus berita bohong atau hoaks di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (23/4).

Diketahui, Hanum Rais sempat mengunggah video saat kebohongan Ratna belum terungkap. Dalam video itu, Hanum mengaku sudah memeriksa Ratna dan membenarkan bahwa dia dianiaya. Ia pun sempat menyebut Ratna sebagai "Cut Nyak Dien masa kini". Hanum sendiri sudah meminta maaf atas video yang diunggahnya itu.


"Di video itu digambarkan bagaimana mereka berjalan berdua keluar dari salah satu pendopo gitu belakangnya, kemudian Hanum Rais menceritakan sudah memeriksa yang bersangkutan dan yakin betul bahwa ini adalah korban pemukulan dan ini adalah contoh Cut Nyak Dien buat dia," kata Tompi.

"Di situ ya konyol saja buat saya gitu. Pertama, kapasitas dia [Hanum] dokter gigi, bukan dokter umum gitu, bukan spesialis bedah, tentu tidak punya kemampuan untuk mengevaluasi [penganiayaan]," lanjut Tompi.

"Dia [Hanum] sudah mengaku memeriksa. Artinya kalau memeriksa sudah ada pertanggungjawaban ilmiahnya. Artinya kalau sudah memeriksa dan salah, ada dua kesimpulannya; satu tidak mampu, atau kedua berbohong," ia menambahkan.

Dalam kasus ini, Ratna didakwa dengan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana karena dianggap telah menyebarkan berita bohong untuk membuat keonaran.

Selain itu, Ratna juga didakwa dengan Pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45A ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena dinilai telah menyebarkan informasi untuk menimbulkan kebencian atas dasar Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Melalui akun Twitter pribadinya, Rabu (3/10), Hanum sempat meminta maaf seusai Ratna mengakui kebohongannya. Ia pun mengaku ceroboh dalam mengunggah berita.

"Memohon maaf adalah ajaran besar dalam Islam ketika kita berbuat keliru. Saya secara pribadi mohon maaf atas kecerobohan dalam mengunggah berita meski telah ber-tabayyun pada ibu Ratna S langsung, hingga pada akhirnya yang bersangkutan telah mengaku berbohong," kicaunya.

[Gambas:Video CNN] (SAH/arh)