Anies Klaim Jumlah Pengungsi Kini Tak Separah Banjir Era Ahok

CNN Indonesia | Senin, 29/04/2019 12:58 WIB
Anies Klaim Jumlah Pengungsi Kini Tak Separah Banjir Era Ahok Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (CNN Indonesia/Ciputri Hutabarat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan banjir yang terjadi di sejumlah titik di Ibu Kota tak separah banjir tahun 2015 jika dilihat dari jumlah pengungsi.
Ketika itu DKI Jakarta dipimpin oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Menurut Anies, pada 2015 jumlah pengungsi akibat banjir mencapai 230 ribu orang yang mengungsi. Sedangkan per 27 April 2019, jumlah pengungsi karena banjir di Jakarta mencapai 529 orang. Per 28 April pukul 23.50 WIB pun, banjir mulai surut di sejumlah titik sehingga pengungsi berkurang menjadi 26 orang.

"Jadi kalau dibandingkan sangat kecil dibandingkan dengan 2015," kata Anies saat ditemui di Balai Kota, Jakarta, Senin (29/4).
Banjir melanda sekitar 32 titik di Jakarta pada Jumat pagi akibat hujan lebat di kawasan Bogor dan sekitarnya pada Kamis (25/4) malam.  Pusat Data dan Informasi Kebencanaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, mencatat dua warga meninggal dunia akibat banjir.


Satu korban meninggal dunia akibat terseret arus Kali Ciliwung di Kelurahan Kebon Baru, Jakarta Selatan. Satu korban lain meninggal akibat serangan jantung di Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur. Tapi, menurut Anies, bukan masalah pengungsi, yang terpenting adalah mengendalikan bajir.

"Tapi kenapa keduanya (tahun2015 dan 2019) terjadi (banjir)? Karena air hujan di hulu tidak dikendalikan. Begitu hujan ya langsung mengalir. Kalau itu dibuatkan waduk-waduk maka volume air yang turun akan terkendali," katanya.
Anies soal Banjir: Dibanding 2015 Pengungsi Lebih KecilBanjir di Pejaten Timur. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sebab itu, kata Anies, salah satu cara untuk mencegah terjadinya banjir dalam jangka pendek yaitu dengan membuat waduk untuk mencegah volume air yang mengalir dari hulu ke hilir menjadi tidak terlalu besar.

"Jangka pendek banjirnya ya tahun ini. Tahun ini ya waduknya dibereskan. Itu yang mendasar," kata Anies.
Lebih lanjut, Anies mengatakan pihaknya sedang dalam upaya menuntaskan proyek pembangunan waduk Ciawi dan Sukamahi bersama pemerintah kota dan pemerintah kabupaten Bogor. Hal ini kata dia menjadi prioritas untuk diselesaikan ke depannya.

Naturalisasi Dikebut

Anies mengatakan program naturalisasi sungai juga akan terus berjalan. Program tersebut akan selesai pada akhir tahun 2019.

Naturalisasi merupakan pembuatan terasering berundak-undak dengan dinding penahan tanah atau batu kali ikat diselingi tanaman pengikat tanah, seperti pohon bambu, sehingga tanah tidak mudah longsor. Tanaman itu juga bisa berfungsi sebagai habitat satwa liar tepi sungai.

Anies menyebutkan saat ini pihaknya sedang menjalankan proses naturalisasi sungai di 5 wilayah.

"Kami sedang dalam proses, mudah-mudahan akhir tahun ini selesai. Salah satunya adalah di koridor Kali Ciliwung, sampai dengan pintu air Istiqlal. Begitu kemudian juga di Kanal Banjir Barat. Juga ada percontohan dari proses ini," kata Anies.
Selain naturalisasi sungai dan waduk, Anies juga menyebutkan soal proyek sodetan kali Ciliwung. Ia mengatakan pihaknya masih berupaya berkomunikasi dengan masyarakat soal pembebasan lahan tersebut.

Proyek sodetan kali Ciliwung masih mandek karena pembebasan lahan yang belum tuntas. Setidaknya ada sekitar 1,2 KM persegi di kawasan Bidaracina, Jakarta Timur yang belum dibebaskan.

Anies menambahkan, soal pembebasan lahan itu berkaitan dengan kepemilikan warga. Hal itu katanya harus dibicarakan lebih jauh dengan warga. Baru setelah itu proses lanjutan seperti pengukuran dan lain-lain bisa dibicarakan.

"Kemarin saya baru bicara dengan Pak Kepala BPN (Badan Pertahanan Nasional) juga. Jadi nanti akan dilakukan komunikasi lebih jauh dengan masyarakat," kata dia.
[Gambas:Video CNN] (ani/ugo)