Analisis

AHY dan Langkah 'Kuda Catur' Jokowi Lucuti Kekuatan Prabowo

CNN Indonesia | Sabtu, 04/05/2019 09:03 WIB
AHY dan Langkah 'Kuda Catur' Jokowi Lucuti Kekuatan Prabowo Presiden Joko Widodo bertemu dengan Komandan Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono. (Dok. Biro Pers Setpres/Rusman).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo bertemu dengan Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di ruang kerjanya, Istana Merdeka, Jakarta Pusat pada Kamis (2/5).

Jokowi menyambut AHY dengan kemeja lengan panjang berwarna putih. Sementara, AHY datang mengenakan kemeja lengan panjang bermotif batik warna hitam dengan menumpangi sebuah mobil berpelat nomor B 2024 AHY.

Pertemuan ini menimbulkan beragam spekulasi. Salah satunya disebut-sebut sebagai 'langkah kuda catur' Jokowi jelang penetapan hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 pada 22 Mei 2019 mendatang.


Bidak kuda dalam permainan catur dikenal dengan langkah huruf 'L'. Kuda catur tak bisa memakan lawannya dengan cara jalan lurus, dia harus berbelok lebih dulu dan melangkah ke depan membentuk huruf 'L' untuk mencapai targetnya.

Langkah kuda catur itu dilihat dari kenyataan bahwa AHY menjadi salah satu simbol separuh kekuatan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Karenanya pertemuan dengan AHY dilakukan Jokowi untuk mendelegitimasi beragam narasi yang disampaikan kubu Prabowo-Sandi ke publik, seperti kecurangan Pemilu 2019. 

Pengamat politik dari The Habibie Center, Bawono Kumoro mengamini hal tersebut. Ia membaca pertemuan dengan AHY merupakan langkah Jokowi untuk melucuti kekuatan kubu Prabowo-Sandi, sekaligus meredam berbagai potensi konflik yang bisa terjadi jelang hari penetapan hasil Pemilu 2019.

Menurut dia cara mengundang AHY ke Istana ditempuh Jokowi lantaran upaya sebelumnya dengan mengutus Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan menemui Prabowo bisa dibilang gagal.

"Jadi cara lain yang ditempuh Jokowi ya ini, merangkul AHY yang merupakan simbol dari separuh kekuatan kubu 02 [Prabowo-Sandi]," ucap Bawono kepada CNNIndonesia.com, Jumat (3/5).

Menurutnya, strategi-strategi yang dilakukan kubu Jokowi-Ma'ruf Amin juga bisa dianggap sebagai upaya untuk menunjukkan ke publik bahwa partai politik dalam barisan pengusung Prabowo-Sandi sudah dalam kondisi yang tidak nyaman. Dimana Prabowo-Sandi kini hanya bermain dengan kelompok yang tergabung dalam Ijtimak Ulama.

"Mendelegitimasi narasi kecurangan, 02 sekarang yang bermain bisa dikatakan orang dari Ijtimak Ulama. Kalau dilihat orang partai pengusung sudah tidak ada. Jadi delegitimasi itu dibentuk Jokowi," ucap Bawono.

Lebih dari itu, dia menilai pertemuan antara Jokowi dan AHY juga telah melahirkan kekhawatiran bagi Prabowo. Hal tersebut terlihat dari rencana Prabowo kembali menjumpai Ketua Umum Demokirat SBY dengan alasan menjenguk Ani Yudhoyono di Singapura Jumat (3/5).

Bawono menilai rencana Prabowo itu bertujuan untuk meminta penjelasan SBY terkait langkah AHY memenuhi undangan pertemuan dengan Jokowi dan menetralisir opini publik yang mulai berpendapat bahwa Demokrat merapat ke kubu Jokowi.

Meski diketahui Prabowo batal ke Singapura dan malah ke Aceh bersama Sandi dalam rangka safari 'terima kasih Indonesia'.

"Jelas pertemuan Jokowi dan AHY bikin Prabowo khawatir karena AHY putra mahkota. Apa yang dilakukan AHY merupakan persetujuan dan sejalan dengan pemikiran SBY, artinya langkah AHY itu cerminan pemikiran SBY," ujar dia.
Temui AHY, Langkah Kuda Catur Jokowi Lucuti Kekuatan PrabowoPresiden Joko Widodo bertemu dengan Komandan Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono. (Dok. Biro Pers Setpres/Rusman).

Jokowi Amankan Diri dan Rencana AHY Jangka Panjang

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Kunto Adi Wibowo juga berpendapat pertemuan dengan AHY dapat dibaca sebagai langkah Jokowi untuk mengamankan diri.

Namun, menurutnya, pertemuan Jokowi dan AHY lebih kepada strategi untuk menguatkan pemerintahan Jokowi bersama wakilnya Ma'ruf lima tahun mendatang.

"Bisa dibaca demikian. Tapi saya melihatnya ini lebih ke strategi jangka panjang, untuk urusan lima tahun ke depan," kata Kunto kepada CNNIndonesia.com, Jumat (3/5).

Kunto juga melihat, AHY pun harus memenuhi undangan Jokowi di Istana karena menyadari akan kebutuhan untuk mendapatkan jabatan sehingga masih bisa tampil di hadapan publik hingga Pemilu 2024 mendatang.

Menurutnya, AHY juga terlihat tengah berupaya untuk membawa Partai Demokrat mendekat kepada kekuasaan sehingga tidak dalam posisi penyeimbang, apalagi oposisi untuk lima tahun ke depan.

"Untuk mendapatkan jabatan menteri atau jabatan lain yang bisa maintain public appearance, karena ini ujungnya [Pemilu] 2024. Inilah yang bikin yang ketemu itu AHY, bukan SBY," kata Kunto. (mts/osc)