Usut Petugas KPPS Tewas, Komnas HAM Klaim Independen

CNN Indonesia | Kamis, 09/05/2019 20:38 WIB
Usut Petugas KPPS Tewas, Komnas HAM Klaim Independen Calon presiden Jokowi dan Prabowo Subianto saat debat capres. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komnas HAM membantah anggapan pihaknya mengakomodir salah satu pasangan calon Pilpres 2019 terkait upaya menyelidiki fakta-fakta terkait penyebab ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal.

"Enggak sama sekali. Kita mengikuti informasi yang berkembang. Kita mulai karena sudah ramai di publik," ucap Komisioner Komnas HAM Hairansyah di kantornya, Jakarta, Kamis (9/5).

Ratusan petugas KPPS tewas telah memicu desakan kepada pemerintah untuk membentuk tim pencari fakta guna mengetahui penyebab peristiwa itu.


Pihak paling aktif mendorong pembentukan tim pencari fakta adalah kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hairansyah menjelaskan mengapa Komnas HAM baru sekarang mulai mencari fakta. Dia mengklaim pihaknya telah memantau setiap tahapan dalam penyelenggaraan pemilu.

Informasi tentang anggota KPPS yang meninggal juga tidak luput disorot. Akan tetapi, karena sudah menjadi ramai diperbincangkan publik, maka Komnas HAM memutuskan untuk menggali fakta-fakta.

Komisioner Komnas HAM Amiruddin mengatakan hal serupa. Sama sekali tidak ada kepentingan politik yang diakomodir Komnas HAM. Misi mencari fakta secara investigatif dilakukan demi menepis isu liar yang berkembang.

"Kan, sudah mulai kemana-mana isunya. Ada yang bilang diracun dan sebagainya. Kita cari fakta yang sebenarnya agar publik menjadi tenang," kata Amiruddin.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik juga menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kepentingan politik apa pun. Misi menyelidiki fakta- akta yang berkaitan dengan penyebab meninggalnya ratusan anggota KPPS bukan untuk mengakomodir salah satu pihak yang berkontestasi.

"Komnas HAM tidak punya kepentingan politik apa-apa, kecuali kepentingan politik bagi demokrasi dan kedamaian bagi bangsa ini," ucap Taufan.

Taufan berjanji pihaknya akan melakukan investigasi seobjektif mungkin. Menurutnya, itu adalah suatu keharusan demi memperoleh hasil yang dapat dipercaya semua pihak.

"Terutama demi memberikan hak-hak kepada korban yang sudah meninggal dan juga yang masih sakit," ucap Taufan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada Sabtu lalu, menyatakan ada 554 orang yang bertugas saat pemungutan dan penghitungan suara, meninggal dunia. Jumlah tersebut terdiri dari anggota KPPS, Panwaslu, dan Polri.

Sebanyak 440 anggota KPPS meninggal dunia. Sementara 3.788 lainnya jatuh sakit.

Berkenaan dengan itu, Komnas HAM memutuskan untuk menggali fakta-fakta terkait penyebab begitu banyak anggota KPPS yang meninggal dunia dan sakit. Komnas HAM tidak membentuk tim baru, hanya memberikan tugas tambahan kepada tim pemantau pemilu internal untuk melaksanakan misi tersebut. (bmw/wis)