Setnov Bantah Makan Padang di RSPAD: Saya Makan Bubur

CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 19:51 WIB
Setnov Bantah Makan Padang di RSPAD: Saya Makan Bubur Terpidana kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP, Setya Novanto. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terpidana kasus korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto membantah makan masakan padang di sebuah restoran di lingkungan RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

"Enggak benar, saya makan bubur," kata Novanto di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (14/5), usai diperiksa sebagai saksi untuk tersangka korupsi proyek PLTU Riau-1, Sofyan Basir.

Ia juga membantah makan bubur di restoran padang di wilayah RSPAD Gatot Subroto. Ia mengatakan saat itu makan bubur di dalam lingkungan RSPAD.


"Enggak di dalam (RSPAD)," kata dia.

Sebelumnya, Setnov diberitakan sejumlah media tengah makan di restoran di lingkungan RSPAD Gatot Subroto.

Hal itu dibenarkan oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami.

Sri Puguh mengatakan Setnov memang sempat duduk-duduk di sebuah rumah makan di dalam lingkungan RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, di sela pemeriksaan kesehatan. Saat duduk-duduk, Setnov sempat makan bubur di sana. 

"Itu ada di dalam RSPAD ya, kafe apa di situ namanya, nah yang bersangkutan jalan, jadi habis diperiksa terus jalan nyeruntul gitu sebentar mau angin-angin,. Terus rupanya duduk di situ, kami sudah membentuk tim untuk memeriksa pegawai kami, kan di sana ada pengawal," kata Utami dalam diskusi di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (30/4).

Ia mengatakan pihak Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin sudah melakukan pengecekan kesehatan terhadap Setnov. Kepergiannya ke RSPAD untuk berobat, kata Utami adalah atas rekomendasi dari dokter RSPAD.

Kata Sri Puguh, pihak Lapas mengeluarkan izin untuk Setnov berobat ke RSPAD Gatot Subroto pada 24 April 2019. Keluarga Setnov juga sudah memberikan penjaminan bahwa yang bersangkutan tidak akan kabur.

"Pada saat berangkat (dari Lapas Sukamiskin) yang bersangkutan dikawal polisi dan petugas kami kemudian sampai RSPAD dilajukan pengevekan kesehatan oleh dokter," kata Utami.

Setnov dalam kesempatan yang sama juga membantah pernah meminta proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Riau-1 kepada Direktur Utama PT PLN (Persero) nonaktif Sofyan Basir. 

"Ini kan sekaligus untuk tersangkanya Pak Sofyan, jadi di antara saya meluruskan bahwa enggak pernah saya meminta untuk PLTG Riau," kata Setya Novanto.

Mantan Direktut PLN Sofyan Basir. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Novanto mengatakan dalam pertemuan dengan Sofyan, ia hanya menanyakan soal proyek pembangkit listrik. 

"Yang saya menanyakan adalah yang mengenai PLTG yaitu perusahan listrik mengenai tenaga gas. Saya menanyakan karena sudah lama nggak berjalan makannya saya tanyakan itu," ujarnya.

Dalam pertemuannya dengan Sofyan, Novanto mengaku hanya membahas soal proyek di perusahaan setrum itu.

"Enggak pernah (pembahasan PLTU Riau-1). Dia menjelaskan program-programnya 35.000 megawatt yang sudah berhasil 27.000, terus perkembangan mengenai PLTG yaitu gas yang sudah lama enggak berjalan," tuturnya.

Sementara itu, juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan pemeriksaan Novanto untuk mendalami perannya dalam kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.

"Hari ini penyidik memeriksa seorang saksi atas nama Setya Novanto (mantan Ketua DPR RI) untuk tersangka SFB dalam kasus terkait dengan kesepakatan kontrak kerja sama Pembangunan PLTU Riau-1," katanya.

KPK telah menetapkan Sofyan sebagai tersangka kasus suap terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau.

Dalam kasus ini, Sofyan diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dengan terpidana mantan Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham dan Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan pihaknya menduga Sofyan telah menerima uang dari Johanes Budisutrisno Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd.

Sofyan diduga turut membantu Eni Maulani Saragih dan kawan-kawan menerima hadiah atau janji dari Johanes Kotjo.

"SFB diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dari jatah Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham," kata Saut di Kantornya, Selasa (23/4). (sah/wis)