Hendropriyono: Aksi Teror 22 Mei Agar Pemerintah Disalahkan

CNN Indonesia | Minggu, 19/05/2019 19:30 WIB
Hendropriyono: Aksi Teror 22 Mei Agar Pemerintah Disalahkan Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Kepala Badan Intelijen Negara Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono menyebut rencana aksi teror bom pada 22 Mei nanti bertujuan agar pemerintah yang disalahkan.

Jika aksi teror itu tak bisa dicegah, bakal ada tudingan bahwa pemerintahlah yang membunuh rakyatnya sendiri. Beruntung rencana tersebut bisa dicegah dengan beberapa penangkapan terduga teroris oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.

"Banyak laporan dari jajaran alat-alat negara, tentara dan polisi bahwa pada saat pawai kedaulatan rakyat nanti itu akan dibom supaya nanti yang disalahkan pemerintah," kata Hendropriyono di Gedung Djoeang, Jakarta, dalam Musyarawah Besar Kaum Muda dengan Tema kesadaran nasional, Minggu (19/5)


Ia mempertanyakan bagaimana mungkin pemerintah mencelakakan rakyatnya sendiri.

"Pemerintah kan yang harus membawa rakyatnya pada keamanan dan kesejahteraan bersama masak ngebom? " ujarnya. 

Belum lagi mereka yang melakukan aksi teror bakal disebut sebagai martir oleh kelompoknya. Padahal martir punya konotasi positif sehingga bisa membakar amarah yang yang lain.
 
"Semangat rakyat terbakar untuk marah dan anarki dan tujuannya jelas untuk menggulingkan pemerintah melalui kudeta," imbuhnya. 

Karena itu Hendropriyono mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak turun ke jalan pada 22 Mei mendatang. "Jangan mau tertipu oleh para elit yang seenaknya pergi ke luar negeri," katanya.

"Jangan mau ditipu menjadi korban dari para elit yang enak-enak pergi ke luar negeri, kabur. Terus nanti balik lagi pada saat-saat yang tetap aman-aman," kata Hendro.

Sebelumnya Polri mengimbau warga agar tidak menggelar aksi pada saat hari pengumuman hasil penghitungan suara Pemilu 2019 pada 22 Mei mendatang.

Kadiv Humas Polri Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal mengatakan imbauan itu disampaikan lantaran ada indikasi bahwa kelompok teroris JAD akan melakukan aksi teror dengan target kerumunan massa pada tanggal tersebut.

Indikasi itu, kata Iqbal, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 29 tersangka teroris yang ditangkap di bulan Mei ini. Dari hasil pemeriksaan, para tersangka menyebut akan menyerang kerumunan massa yang berkumpul di hari pengumuman penghitungan suara Pemilu itu.

"Ini akan membahayakan karena mereka akan menyerang semua massa termasuk aparat yang berkumpul dengan melakukan bom," tutur Iqbal dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (17/5).

Kelompok JAD, kata Iqbal, menganggap demokrasi tidak sejalan dengan kelompok mereka. Kelompok itu akan memanfaatkan momentum pesta demokrasi atau pemilu untuk melancarkan aksi teror.

Namun hal ini ditanggapi negatif oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Menurutnya demosntrasi adalah hak warga negara.

Apa yang dilakukan polisi menurutnya hanya menakut-takuti masyarakat yang ingin berdemonstrasi memrotes kecurangan Pemilu 2019.

"Masyarakat yang ingin memprotes kecurangan Pemilu pada 22 Mei nanti ditakut-takuti dengan kemungkinan adanya aksi teror bom oleh teroris," kata Fadli dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/5).

Belum lagi kegiatan razia dan penyisiran oleh polisi untuk mencegah masyarakat datang ke Jakarta mengikuti aksi.  (sas/sur)