Polisi Dipecat Karena Penyuka Sesama Jenis Menggugat ke PTUN

CNN Indonesia | Selasa, 21/05/2019 02:31 WIB
Polisi Dipecat Karena Penyuka Sesama Jenis Menggugat ke PTUN Ilustrasi penyuka sesama jenis. (REUTERS/Kham)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang anggota kepolisian Polda Jawa Tengah, TT, yang diberhentikan secara tidak hormat menggugat keputusan itu. Dia disebut terlibat dalam kasus pemerasan dan seorang penyuka sesama jenis.

Kuasa hukum TT, M Afif Abdul Qaim, mengatakan meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk memberikan keterangan dalam sidang gugatan yang akan diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

"Meminta kesediaan Komnas HAM untuk menjadi salah satu ahli dan memberikan keterangan tertulis pada saat nanti di persidangan, pembuktian untuk memperkuat argumentasi kita terkait dengan gugatan pemecatan klien kita yang dituduh orientasi seksual yang berbeda," jelas Afif di kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Senin (20/5).


TT diberhentikan lantaran mengakui menyukai sesama jenis. TT merupakan anggota Subditwisata Ditpamobvit Polda Jawa Tengah dengan pangkat Brigadir itu disebut sempat tidak berdinas atau desersi. Kuasa hukum menilai hal tersebut diskriminatif dan akan mengajukan gugatan.
Pada 14 Februari 2017 lalu, TT dijemput oleh Propam Polres Kudus terkait dengan kasus pemerasan. Penjemputan dilakukan tanpa surat perintah. Namun dari hasil pemeriksaan, dugaan pemerasan tidak terbukti.

Setelahnya TT diperiksa sebanyak tiga kali, yakni pada 15 Februari, 16 Februari, dan 23 Februari. Namun, menurut Ma'ruf, pemeriksaan itu dilakukan tanpa ada laporan lebih dulu. Mengingat laporan atas TT baru terbit pada 17 Maret dan dibuat oleh anggota kepolisian.

Lalu, pada 18 Oktober 2017, TT menjalani sidang komisi kode etik profesi Polri. Di hari yang sama pula, sidang langsung mengeluarkan putusan terhadap TT, yakni terbukti melakukan perbuatan menyimpang.

Dalam sidang tersebut TT memang mengakui dia memiliki orientasi seksual minoritas atau menyukai sesama jenis.

Atas putusan itu, pihak TT mengajukan banding. Pada 28 April, terbit hasil keputusan banding yang intinya menolak banding yang diajukan oleh TT. Pada 27 Desember, terbit keputusan pemberhentian dengan tidak hormat terhadap TT yang diteken Kapolda Jawa Tengah.
Menanggapi hal itu, kuasa hukum TT lainnya, Ma'ruf Barjammal, mengatakan tidak betul jika menyukai sesama jenis disebut melanggar kode etik. Sebab dalam kasus TT tidak ada korban pelecehan.

"Ini perbuatan yang sama-sama konsensual yang dilakukan oleh orang dewasa yang kemudian itu juga tidak bisa diintervensi karena itu masuk ke dalam ranah privat," jelas Ma'ruf.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan alasan pemberhentian karena desersi juga tidak benar. Diketahui desersi terbukti jika yang bersangkutan absen selama 30 hari secara berturut-turut.

"Klien kita tidak pernah meninggalkan tugas 30 hari berturut-turut. Bahkan setelah putusan komisi banding keluar bulan April, dia masih ditugaskan mengawal lebaran 2018," tambahnya. (ani/ayp)