Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik menyebut pendalaman dilakukan dengan meminta keterangan sejumlah korban yang dirawat pascainsiden tersebut.
"Kami masih dalami. Selain meminta keterangan korban, kami juga meminta keterangan petugas kesehatan yang menangani mereka," kata Taufan seusai menjenguk korban bentrok di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta, Rabu (22/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:FPI Bantah Terlibat Kerusuhan di Bawaslu |
Ahmad Taufan Damanik. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Taufan menyayangkan aksi penyampaian pendapat yang dilakukan pada 21 Mei berakhir dengan bentrok antara aparat keamanan dengan massa. Menurut dia, hal itu tidak perlu terjadi bila seluruh pihak bisa menahan diri.
Ketika ditanya apakah sudah ada dugaan terjadi pelanggaran hak asasi dalam kejadian itu, Taufan mengatakan belum bisa dipastikan karena kejadian tersebut harus dilihat secara keseluruhan.
Lihat juga:Bioskop Pilih Tutup karena Aksi 22 Mei |
"Kami akan meminta keterangan dari korban, juga dengan para pimpinan aparat keamanan kita," ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan data yang dipasang pengelola RSUD Tarakan, terdapat 140 pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Seluruhnya laki-laki dengan usia beragam. Yang termuda berusia 15 tahun.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, korban meninggal akibat kerusuhan berjumlah enam orang. Keenam korban meninggal berada di Rumah Sakit Tarakan Jakarta Pusat (1 orang), RS Pelni Jakarta Barat (2 orang), kemudian RS Budi Kemuliaan Jakarta Pusat (1 orang), RS AL Mintohardjo (1 orang), dan RS Cipto Mangunkusumo (1 orang).
