Menurutnya, NIK siluman terjadi ketika jumlah kecamatan berbeda dengan data pemilih. Misalnya, kata dia, ada 40 kecamatan di Bogor. Namun kode yang yang tercantum dalam NIK mencapai 85.
"Itu kan ada kodenya di Kemdagri. Misalnya Bogor cuma ada 40 kecamatan, tapi bisa dilihat kodenya sampai 85," ujar Idham.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"NIK rekayasa ini NIK yang seluruh elemen datanya keliatan benar tapi salah. Misalnya NIK perempuan tapi dia laki-laki," katanya.
"Di Papua kalau tidak salah banyak data ganda," ucapnya.
Penjelasan soal NIK kecamatan siluman dan NIK rekayasa ini pun dipertanyakan oleh Komisi Pemilihan Umum selaku pihak termohon. Pasalnya, pemenang pilpres di Bogor dan Sulawesi Selatan justru dimenangkan Prabowo-Sandi.
"Apa saudara tahu dalam pilpres di Kabupaten Bogor dan Sulawesi Selatan pemenangnya 01 atau 02?" tanya Komisioner KPU Hasyim Asy'ari.
Idham mengaku tak mengetahui karena ia hanya fokus memeriksa kebenaran Daftar Pemilih Tetap (DPT) pilpres 2019. Hasyim pun menyampaikan bahwa di kedua provinsi tersebut dimenangkan oleh Prabowo-Sandi.
"Kami kasih tahu pemenangnya 02," ucap Hasyim.
[Gambas:Video CNN] (psp/dal)