Rusmanto di RS: Menjemput Jenazah, Mendekap Bantal Merah Muda

Antara, CNN Indonesia | Minggu, 23/06/2019 07:42 WIB
Rusmanto di RS: Menjemput Jenazah, Mendekap Bantal Merah Muda Sejumlah keluarga korban kebakaran pabrik korek api menunggu proses identifikasi jenazah di RS Bhayangkara Polda Sumut, di Medan, Sumatera Utara, Jumat (21/6). (ANTARA FOTO/Septianda Perdana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusmanto, warga Desa Sambirejo, Sumatera Utara, mendekap erat sebuah bantal merah muda berukuran kecil yang lusuh.

Bantal itu dibawanya dari kota Binjai hingga ke RS Bhayangkara Medan. Saat itu, ia hendak menjemput istri dan kedua anaknya yang kini tak lagi dapat dikenali olehnya akibat kebakaran.

Istri dan kedua anak Rusmanto adalah korban meninggal dalam peristiwa kebakaran pabrik perakitan korek api di Jalan Tengku Amir Hamzah, Dusun IV, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Jumat (21/6).

Istri Rusmanto bernama Yunita Sari, dan kedua anaknya adalah Vinkza Parisyah (10) dan Runisa Syaqila (2).

Pada Sabtu (22/6) malam, dia terlihat sibuk dengan beberapa berkas di tangannya. Berkas itu menjadi syarat bagi dirinya untuk bisa membawa pulang kembali jenazah istri dan kedua anaknya yang sudah dua hari bermalam di RS Bhayangkara Medan.

Warga mengamati lokasi kebakaran pabrik korek gas (mancis) di Desa Sambirejo, Sumut.Warga mengamati lokasi kebakaran pabrik korek gas (mancis) di Desa Sambirejo, Sumut. (ANTARA FOTO/Adiva Niki)

Meski sibuk memegang berbagai berkas, bantal kecil itu tetap dipeluk erat olehnya. Bantal yang dibawanya itu adalah milik putri kecilnya yang bernama Runisa Syaqila.

"Ini bantal kesayangan anak saya. Cuma ini yang bisa saya peluk," ujarnya lirih, dikutip dari Antara.

Saat ditanya mengenai alasannya membawa bantal tersebut, seketika tangis Rusmanto pecah. Berulang kali ia menyeka air mata yang tak henti-hentinya menetes membasahi pipi tirusnya itu.

"Saya juga enggak tahu, bantal ini terbawa gitu aja. Bantal ini juga mengingatkan saya sama anak saya itu, makanya saya enggak mau ngelepasin bantal ini," ucapnya sambil menangis dan membelai lembut bantal tersebut.

Diketahui, pabrik perakitan korek api yang berada di Desa Sambirejo terbakar pada Jumat (21/6) sekitar pukul 12.05 WIB, dan menewaskan puluhan pekerjanya, termasuk juga anak-anak yang berada di lokasi pabrik tersebut.

Tim DVI kemudian melakukan identifikasi jenazah yang sudah tak bisa dikenali itu. Caranya mencocokkan data pra-kematian atau antemortem dan pasca-kematian atau post-mortem dengan jenazah.

Petugas membawa korban kebakaran pabrik korek api ke RS Bhayangkara.Petugas membawa korban kebakaran pabrik korek api ke RS Bhayangkara. (ANTARA FOTO/Septianda Perdana)
Hingga kini, 7 orang korban, termasuk dua anak Rusmanto, sudah teridentifikasi. Sayangnya, isteri Rusmanto, Yunita Sari, belum bisa diidentifikasi.

Walhasil, hingga Sabtu malam, janazah yang bisa dibawa pulang oleh Rusmanto adalah jenazah kedua anaknya.

Secara rinci, tujuh korban yang sudah teridentifikasi adalah Shifa Oktaviana (anak dari Yuli Fitriani) usia 9 tahun, alamat Dusun I, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat (peti nomor 04).

Lalu, Rina (karyawati) usia 15 tahun, alamat Desa Tumang Siak, Provinsi Riau ( peti nomor 17); Sahmayanti (karyawati) usia 22 tahun, alamat Desa Perdamaian, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat (peti nomor 16).

Kemudian, Vinkza Parisyah (anak dari Yunita Sari) usia 10 tahun, alamat Jalan Tengku Amir Hamzah Dusun IV, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat (peti nomor 20); dan Runisa Syaqila usia 2 tahun, alamat Jalan Tengku Amir Hamzah Dusun IV, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat (nomor 19 ).

Selanjutnya, Bisma Syaputra (anak dari Desi Setiani) usia 3 tahun, alamat Dusun IV, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat (peti nomor 10); dan Zuan Ramadhan (anak dari Desi Setiani) usia 6 tahun, alamat Dusun IV, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat (peti nomor 18).

Dalam insiden ini, tiga petinggi perusahaan sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus kelalaian.

[Gambas:Video CNN]


(arh)