"Nah ini stabil saja tuh. Kalau ini begini apa yang dibatasi? Enggak usah lah," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (24/6).
Rudiantara mengatakan penyebaran hoaks atau berita bohong sudah tak tinggi seperti saat kerusuhan 21-22 Mei. Ia pun menunjukkan data di selembar kertas yang berisi penyeberan hoaks lewat sejumlah medsos, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudiantara melanjutkan untuk saat ini persebaran hoaks sudah menurun dibandingkan pada 21-22 Mei saat kerusuhan terjadi. Ia mengajak semua pihak ikut menjaga agar persebaran hoaks tak kembali meningkat saat pembacaan putusan MK pada 27 Juni mendatang.
Meski demikian, Rudiantara mengaku sudah menyiapkan antisipasi untuk meredam persebaran hoaks saat pembacaan putusan sengketa Pilpres 2019. Namun, ia menolak mengungkapkan antisipasi yang pihaknya akan lakukan.
"Ya kalau antisipasi enggak saya umumkan," tuturnya.
Seperti diketahui, pemerintah telah melakukan pembatasan akses ke sejumlah platform media sosial saat KPU mengesahkan hasil Pilpres 2019, 21 Mei silam. Sepanjang pembatasan media sosial yang berlangsung dua hari (21-22/5), pemerintah mengklaim menemukan sekitar 600 hingga 700 url baru setiap harinya yang menyebarkan konten negatif.
Pembatasan akses pada 21-22 Mei tidak hanya berlaku untuk media sosial, termasuk pula pada platform pesan instan WhatsApp. Saat itu pengguna WhatsApp tidak bisa mengirim pesan gambar dan video pada periode tersebut.
Kemenkominfo juga berkoordinasi dengan penyedia platform pesan instan itu untuk mengatasi sebaran konten negatif. Selama aksi massa 22 Mei di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) diketahui WhatsApp telah menutup sekitar 600.000 nomor yang menyebarkan konten negatif.