Gaji Buruh Pabrik Korek yang Terbakar di Binjai Rp500 Ribu

CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 18:50 WIB
Gaji Buruh Pabrik Korek yang Terbakar di Binjai Rp500 Ribu Para tersangka dalam kebakaran pabrik korek api di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. (CNN Indonesia/Farida)
Medan, CNN Indonesia -- Polres Binjai mengungkap bahwa para buruh pabrik  korek api di Desa Sambi Rejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang tewas dalam musibah kebakaran pada pekan lalu, selama ini digaji di bawah upah minimum regional (UMR) yakni hanya Rp500 sampai Rp700 ribu per bulan.

"Jadi pemilik pabrik itu mengupah karyawan di bawah UMR, karena rata-rata upah pekerjanya itu hanya Rp500 sampai Rp700 ribu per bulan," kata Kapolres Binjai Ajun Komisaris Besar Nugroho, Senin (24/6).

Menurut Nugroho PT Kiat Unggul memiliki beberapa pabrik yang berada di lokasi berbeda. Pabrik induk PT Kiat Unggul berada di daerah Diski dan setelah diperiksa pabrik tersebut memiliki izin.


"Untuk cabangnya ada di Desa Sambi Rejo yang terbakar kemarin, kedua ada di Desa Pardamean dan yang ketiga di Desa Banyumas, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat," jelasnya.

Dia menambahkan ketiga cabangnya ini tidak memiliki izin. Dan seluruh operasionalnya sudah ditutup termasuk mandornya sudah diamankan untuk diperiksa.

"Saat ini kita masih mendalami alasan kenapa ketiga pabrik yang merakit mancis (korek) itu menjadi satu dengan pabrik induk yang di Diski. Bisa jadi untuk menghindari pajak, menghindari jaminan sosial tenaga kerja," urainya.

Sementara itu, Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krishna Syarif yang langsung turun ke lokasi kebakaran mengatakan dari seluruh pekerja yang tewas terbakar, hanya satu pekerja atas nama Gusliana yang tercatat sebagai peserta di BPJS Ketenagakerjaan kantor Cabang Binjai. Mendiang Gusliana merupakan mandor di PT Kiat Unggul

"Jadi seluruh pekerja yang berada di lokasi kejadian (Kabupaten Langkat) belum terdaftar BPJS Ketenagakerjaan. Dari 30 korban, hanya satu orang saja yang terdaftar, yakni mandornya. Almarhumah Gusliana merupakan mandor yang sedang ditugaskan untuk mengawasi pabrik korek api gas di Kabupaten Langkat saat musibah terjadi," katanya.

Krishna menjelaskan Gusliana yang bekerja di lokasi pabrik pada saat musibah terjadi, telah didaftarkan oleh PT Kiat Unggul sejak Oktober 2018 dengan upah Rp2.938.525.

"Atas hal tersebut BPJS Ketenagakerjaan telah melakukan kunjungan ke rumah duka untuk memastikan ahli waris segera mendapatkan haknya. Besaran santunan yang diberikan sebesar Rp150,4 juta terdiri atas manfaat jaminan kecelakaan kerja meninggal dunia, jaminan hari tua dan jaminan pensiun yang akan dibayarkan secara lumpsum kepada ahli waris Gusliana," tambah Krishna.

Terkait korban lain yang tak terdaftar BPJS Kesehatan, Krishna merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 2015.

Peraturan itu mengatur bahwa pemberi kerja yang tidak mendaftarkan pekerjanya ke dalam program BPJS Ketenagakerjaan, berkewajiban untuk memberikan santunan kepada pekerja yang besarannya minimal sama dengan santunan yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan.

"Kalau tidak mampu membayar memang ada sanksi pidananya sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.

Tersangka Sempat Ganti Kartu Telepon

Polisi sejauh ini telah menahan tiga tersangka dalam insiden insiden kebakaran pabrik korek api ini. Ketiga tersangka yakni Indra Marwan selaku Direktur Utama PT Kiat Unggul (KU), Burhan selaku Manager Operasional dan Lismawarni selaku HRD Personalia PT KU.

Nugroho mengatakan salah satu tersangka yakni Indra Marwan sempat berupaya melarikan diri pasca kejadian. Saat itu polisi meminta tersangka Burhan menghubungi Indra Marwan agar datang ke Polres Binjai untuk diperiksa atas kebakaran yang terjadi.

"Sabtu paginya yang bersangkutan sudah tiba di Kota Medan dan masih kooperatif. Namun di tengah perjalanan, Indra Marwan mematikan telepon genggamnya," ujar AKBP Nugroho.

Bahkan pelaku juga sempat mengganti kartu teleponnya. Di situ polisi menilai Indra Marwan berupaya untuk melarikan diri. Mendapat informasi tersebut, polisi langsung melakukan pengejaran dan akhirnya berhasil menangkap Indra Marwan di kawasan Sunggal.

Dia melanjutkan, penyidik sampai saat ini masih melakukan pengembangan atas kasus tersebut, termasuk soal izin merek korek api yang diproduksi PT KU.

"Kalau umumnya merek mancis itu kan (mereknya) Tokai. Tapi yang diproduksi mereka ini mereknya Toke dan tabung gasnya itu lebih tipis," beber Nugroho.

[Gambas:Video CNN] (fnr/wis)