Menurut Pramono, dalam penyelenggaraan pemilu pasti ada saja kesalahan dan kelalaian yang terjadi. KPU pun butuh kontrol dari masyarakat dalam menjalankan tugasnya sebagai penyelenggara pemilu. Namun, dia menyayangkan ketika tuduhan kecurangan tidak disertai bukti-bukti yang kuat.
"Tak ada gading yang tak retak. Tetapi yang jadi masalah ketika tuduhan-tuduhan itu hanya narasi. Kalaupun ada bukti itu sumir. Yang kuat tuduhanya, tapi buktinya tidak kuat," ucap Pramono di gedung MK, Jakarta, Kamis (27/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terpenting, lanjut Pramono, semua pihak telah diberikan kesempatan yang sama dalam persidangan. Baik tim hukum Prabowo-Sandi selaku pemohon, KPU selaku termohon, serta tim hukum Jokowi-Ma'ruf selaku pihak terkait, dan Bawaslu selaku pihak pemberi keterangan.
Nantinya, setelah majelis hakim MK membacakan putusan hingga selesai, KPU bakal menggelar rapat pleno. Tentu dalam rangka menyikapi putusan MK.
"Prinsipnya jam berapapun ini selesai, kita akan langsung tindaklanjuti dengan rapat pleno. Tergantung putusannya apa. Diterima atau ditolak kita harus mempersiapkan alternatif-alternatif," kata Pramono. (bmw/osc)