Kepala Badan BNPT Suhardi Alius menyatakan salah satu indikator tak terpapar radikalisme adalah tak menyebarkan paham takfiri atau gemar mengkafirkan orang.
"Radikalisme dalam perspektif negatif ini diasosiasikan dengan intoleransi, anti Pancasila, anti NKRI, dan penyebaran paham takfiri," ujar Suhardi usai menerima kunjungan tim pansel capim KPK di kantor BNPT, Jakarta, Senin (1/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami juga sudah kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi dalam menelusuri rekam jejak calon rektor," katanya.
"Jadi kita ingin bukan hanya KPK, tapi semua lini ikut memperjuangkan eksistensi NKRI," ucap Suhardi.
Sementara itu, anggota pansel capim KPK Hendardi mengatakan, radikalisme merupakan isu penting yang belakangan makin berkembang. Pihaknya harus memastikan bahwa tak ada capim yang terlibat atau diintervensi oleh paham tersebut.
"Jadi yang kami golongkan radikalisme itu tidak terlibat organisasi teroris, ganti ideologi Pancasila ke agama tertentu, dan tidak masuk golongan takfiri atau yang sering kafir-kafirkan orang. Itu kan yang berkembang belakangan ini," tuturnya.
"Tapi isu radikalisme memang salah satu yang harus diperkuat karena presiden juga saat itu sudah menegaskan bahwa isu ini penting," ucapnya.
[Gambas:Video CNN] (psp/osc)