Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Wiendra Waworuntu mengatakan butuh waktu dua bulan untuk mencabut status KLB penyakit di daerah tersebut. Artinya status KLB di Pacitan ditetapkan sampai dua bulan ke depan.
"Sekitar dua bulan kita baru bisa mengatakan berhenti penularan, dicabut status KLB (penyakit hepatitis A)," kata Wiendra kepada CNNIndonesia.com, di Gedung Kemenkes, Jakarta, Selasa (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang paling penting tidak ada kasus baru dalam dua kali masa inkubasi. Dua kali masa inkubasi itu yaitu 2 kali 28 jam, sekitar dua bulan," jelasnya.
Lebih lanjut Wiendra menjelaskan perihal status KLB penyakit hepatitis A di Pacitan. Menurut dia status KLB itu ditetapkan karena penyakit ini sudah terjadi selama hampir sebulan terakhir dan sudah menyebabkan 957 orang yang terjangkit hepatitis A.
"Disebut KLB karena tidak pernah ada penyakit ini, kemudian terjadi peningkatan kasus yang signifkan berkali-kali lipat dari sebelumnya. Sehingga ditetapkan menjadi suatu KLB," jelasnya
Cegah Penyebaran dengan Desinfeksi
Wiendra menambahkan saat ini pihaknya bersama Dinas Kesehatan Pemkab Pacitan telah melalukan desinfeksi pada sumber air di daerah yang wilayahnya terkena penularan penyakit hepatitis A. Desinfeksi ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus hepatitis A secara meluas.
"Kalau di daerah sudah dilakukan desinfeksi, memberi kaporit di air upaya itu sudah dilakukan teman-teman dinas kesehatan," kata Wiendra.
Wiendra mengatakan penularan penyakit hepatitis A ini diduga berasal dari sungai Sukarejo yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Air sungai didistribusikan melalui mobil tangki yang kemudian dijual ke masyarakat.
"Kita harus buktikan sungai Sukarejo itu tercemar. Virusnya harus ada di situ," jelasnya.
Lebih jauh Wiendra menjelaskan bahwa air minum yang tercemar bukan menjadi satu-satunya penyebab penularan hepatitis A. Faktor lainnya adalah gaya hidup dan makanan tidak sehat patut diperhatikan.
"Pada prinsipnya karena air konsumsi yang paling sering digunakan, tapi makanan dan minuman juga menjadi risiko dari sumber penularan," tuturnya.
Lihat juga:Cara Tepat Cegah Hepatitis A |
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menduga air minum tercemar jadi sumber penularan penyakit hepatitis A di Pacitan.
Data per 30 Juni 2019, Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Hari Santoso mengatakan jumlah pasien mencapai 957 orang.
Jumlah tersebut tersebar di sejumlah kecamatan di Pacitan, yakni di Sudimoro dengan 527 orang, Ngadirojo 176 orang, Sukorejo 82 orang, Tulakan 69 orang, Wonokarto 54 orang, Arjosari 33 orang, Bubakan 25 orang, Tegalombo 5 orang dan Ketrowonojoyo 4 orang.
[Gambas:Video CNN] (sas/osc)