Kerusuhan tersebut menyebabkan sembilan orang tewas. Pihak rumah sakit yang menangani korban telah melakukan visum terhadap empat orang, sementara lima lainnya belum diautopsi karena pihak keluarga tidak berkenan.
"Dari peristiwa kerusuhan itu menyebabkan sembilan perusuh meninggal dunia. Empat di antaranya sudah divisum dan ditemukan proyektil di tubuhnya," kata Suyudi di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (5/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harun meninggal di tempat. Dia sempat dibawa ke RS Dharmais, Jakarta Barat.
Suyudi mengatakan hasil autopsi Harun ditemukan proyektil peluru berukuran 9 x 17 mm. Dia menduga peluru tersebut dari senjata nonorganik Polri.
Proyektil juga ditemukan di tubuh Abdul Aziz, pelaku kerusuhan yang tewas di depan Asrama Brimob. Suyudi mengatakan penembakan itu diduga dilakukan oleh orang tak dikenal dengan jarak kurang lebih 30 meter dari arah belakang.
"Kena punggung sebelah kiri, ditemukan juga proyektil di badannya 5,56," katanya.
Pada 30 Mei lalu, Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigadir Jenderal Musyafak mengatakan Harun mengalami luka tembak pada bagian lengan kiri atas hingga menembus dada.
Kerusuhan terjadi berturut-turut selama dua hari pada 21-22 Mei 2019. Pengunjuk rasa menuntut Bawaslu mengusut kecurangan Pemilu 2019. Situasi berubah ricuh pada malam harinya hingga pagi keesokan harinya.
Setidaknya ada lima titik ricuh pada 21-22 Mei 2019, yakni di depan Gedung Bawaslu, Pasar Tanah Abang, Simpang Jalan Agus Salim (Sabang), Jembatan Slipi Jaya dan Petamburan (sekitar kompleks Asrama Brimob).
[Gambas:Video CNN] (bin/pmg)