TPA Kopi Luhur sendiri menjadi lokasi akhir pembuangan sampah-sampah dari Kota Cirebon. Sudah sekitar 20 tahun-an sampah-sampah di Kota Udang dibuang ke sana.
"Sampah-sampah itu dari Kota Cirebon. Yang pasti sudah 20 tahunan berdiri di situ," ujar Wisnu kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menuturkan bahwa sebelum anaknya diperiksa, ada warga Cibogo yang mengeluhkan hal serupa kepada bidan.
"Berdasarkan pengakuan bidan tersebut, sebelum anak saya, ada anak lainnya yang mengalami hal serupa. Itu semua karena air di wilayah Sumur Wuni sudah tercampur bakteri, sehingga tidak layak dikonsumsi," kata dia.
Lebih jauh Wisnu menjelaskan bahwa gatal-gatal ini menjangkit anaknya sudah sekitar seminggu. Gatal-gatal ini bahkan disertai nanah. Wisnu sempat menduga anaknya terserang cacar. Selang beberapa hari istrinya pun turut mengalami hal serupa.
Atas dasar itu, Wisnu berharap Pemerintah Kota Cirebon bisa bergerak atau menindaklanjuti permasalahan. Sebab TPA Kopi Luhur jika dibiarkan begitu saja bisa berpotensi menjadi sumber penyakit lain mulai dari demam berdarah, gatal-gatal, batuk, sesak napas, dan lainnya.
Hal ini lantaran jarak antara tumpukan sampah dengan Desa Sumur Wuni kurang lebih 1 kilometer. .
"Sampah ini masalah krusial, seharusnya mereka (pemerintah) bisa memikirkan solusinya," kata Wisnu melanjutkan.
CNNIndonesia.com telah menghubungi humas Pemkot Cirebon, namun, Pemkot Cirebon belum memberi tanggapan atas keluhan warga terkait TPA Kopi Luhur ini.
[Gambas:Video CNN] (osc/osc)