Bimo Wiwoho
Wartawan yang juga penyuka sejarah

KOLOM

Pecundang Perang Dunia dan Pilpres di Gerbong Kereta

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Senin, 15/07/2019 12:39 WIB
Pecundang Perang Dunia dan Pilpres di Gerbong Kereta Presiden Joko Widodo (kanan) ketika berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua kanan) di dalam gerbong kereta MRT di Jakarta, Sabtu (13/7). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Untuk kali pertama sejak kontestasi Pilpres 2019 berakhir, Joko Widodo bertemu dengan Prabowo Subianto pada Sabtu (13/7). Lokasi yang dipilih adalah stasiun moda raya terpadu (MRT) Lebak Bulus, Jakarta.

Keduanya berjabat tangan dan berpelukan di stasiun kemudian langsung naik MRT menuju Senayan. Jokowi dan Prabowo duduk berdampingan dan bercengkerama dalam gerbong yang sama.

Momen pertemuan di atas gerbong itu membuat saya teringat simbol kekalahan pada Perang Dunia I dan II silam. Tidak menutup kemungkinan Jokowi atau PDI Perjuangan bermaksud menyiratkan pesan tertentu.

Perang Dunia I dan II


Paruh akhir 1918, Kekaisaran Jerman tidak mampu melanjutkan peperangan lantaran kehabisan sumber daya dan bala tentara. Mereka lalu mengajukan gencatan senjata dengan pihak Sekutu.

Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan kawan-kawan Sekutu lainnya, memilih gerbong kereta sebagai lokasi penandatanganan. Jerman tak keberatan.

Gerbong itu diparkir di Hutan Compiègne, Prancis. Di sana, pimpinan tentara Prancis Marsekal Ferdinand Foch menerima delegasi Jerman yang dipimpin oleh Matthias Erzberger pada pagi hari.

Perundingan gencatan senjata Perang Dunia I resmi diteken pada pukul 11.00, tanggal 11, dan bulan 11 (November) tahun 1918. Beberapa bulan kemudian, Jerman juga menandatangani Perjanjian Versailles untuk menanggung beban selaku pemicu perang.

Gerbong kereta bersejarah itu lalu dipajang di museum di Prancis. Namun, tidak sampai seperempat abad, gerbong itu dikeluarkan dan ditaruh kembali ke lokasi semula.

Pada 1940, giliran Adolf Hilter sang diktator Jerman yang ingin menggunakan gerbong kereta itu, yaitu saat Prancis mengakui kekalahan. Momen itu terjadi ketika Perang Dunia II baru berkecamuk.

Hitler seolah ingin balas dendam. Menurut kesaksikan wartawan Amerika Serikat William Shirer yang hadir di lokasi, Hitler menampakkan wajah yang bengis.

"Aku hanya berada sekitar 50 yard darinya (Hitler). Aku telah menyaksikan wajah itu di banyak kesempatan, di waktu-waktu terbaiknya. Tapi hari ini! Wajahnya dipenuhi oleh campuran kemarahan, penghinaan, kebencian, pembalasan, dan kemenangan," tutur William.

Gerbong kereta bersejarah itu lalu di bawa ke Berlin. Namun, hancur saat Sekutu menghujani wilayah Jerman dengan ribuan ton bom di penghujung Perang Dunia II.

Gerbong MRT Usai Pilpres 2019

Wajar jika kita bertanya-tanya ada atau tidaknya pesan tertentu di balik pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT. Apalagi, Jokowi selaku pemenang pertarungan Pilpres 2019 yang menentukan lokasi pertemuan. Sama seperti Sekutu dan Jerman ketika unggul perang.

Jokowi mengaku dirinya yang mengajak Prabowo bertemu di Stasiun MRT. Rencana itu dipilih karena tahu Prabowo belum pernah menjajal moda transportasi termutakhir yang dimiliki Indonesia tersebut.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga mengatakan bahwa MRT dipilih Jokowi karena merupakan simbol pembangunan infrastruktur. Alasan lain, kata Budi, MRT tergolong netral.

"Satu tempatnya nyaman, dan netral. Kedua visioner, menuju ke depan, menuju hal yang modern," kata Budi.

Apakah kereta MRT bisa tergolong netral bagi Prabowo yang kalah dalam pertarungan? Jika merujuk kepada Perang Dunia I dan II, menurut saya tidak. 

Kereta, setidaknya dalam dua peristiwa monumental itu, adalah simbol tempat ketika pecundang takluk di hadapan lawan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pecundang berarti pihak yang dikalahkan. Maka tidak salah jika saya menggunakan diksi tersebut.

Andai Jokowi atau PDIP benar-benar murni menginginkan tempat netral, seharusnya bukan kereta yang dipilih, yang memang sudah identik dengan lokasi penandatanganan pengakuan kekalahan.

Sama saja menegaskan Prabowo sebagai pihak yang kalah. Tidak ada lagi kesan netral atau setara antara Jokowi dan Prabowo ketika berada dalam gerbong MRT yang sama.

Jokowi atau PDIP juga rasa-rasanya ingin menganggap Prabowo sebagai rival terberat. Wajar saja, mereka berseteru dengan sengit sejak Pilpres 2014 silam.

Pertarungan antara Jokowi dan Prabowo bahkan sampai membuat jurang di antara masyarakat Indonesia hingga begitu lebar. Baik pada Pilpres 2014, mau pun 2019 lalu.

Mungkin juga, Jokowi atau PDIP memilih kereta MRT sebagai lokasi pertemuan untuk mengungkapkan rasa bangga. Tentu karena berhasil menaklukkan lawan terberat dalam dua kontestasi Pilpres 2019, seperti halnya yang terjadi di Perang Dunia I dan II.

Dahulu, pada Perang Dunia I, Jerman adalah musuh terkuat Sekutu di antara negara lainnya, yakni Turki, Bulgaria, Austria-Hongaria dan kawan-kawan.

Begitu pula pada Perang Dunia II. Prancis merupakan negara dengan jumlah tentara terbesar di Eropa. Banyak negara yang percaya Prancis adalah pelindung Eropa meski akhirnya kalah lebih cepat di tangan Jerman.

Menteri Perhubungan Budi Karya mengatakan ada beberapa orang yang menjembatani pertemuan Jokowi dan Prabowo. Mereka adalah Kepala BIN Budi Gunawan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo.

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, orang yang tahu sejarah dan punya perpustakaan pribadi, tak ada dalam barisan orang yang turut mengatur pertemuan. Mungkin Fadli tidak setuju dengan lokasi pertemuan itu. Dia dikabarkan tidak hadir saat Jokowi dan Prabowo bertemu pada Sabtu lalu (13/7).

Terlepas dari itu semua, Prabowo tidak membantah bahwa memang Jokowi yang mengajak dirinya bertemu di stasiun sekaligus menjajal MRT.

Dia mengucapkan terima kasih, yang menurut saya, bernada polos. Atau bisa jadi Prabowo memang sudah mendapatkan suatu kesepakatan dari Jokowi sehingga mau bertemu di kereta MRT.

"Beliau tahu bahwa saya belum pernah naik MRT. Jadi saya terima kasih, Pak (Jokowi). Saya naik MRT. Luar biasa," kata Prabowo

[Gambas:Video CNN]

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS