Dinas Lingkungan DKI Sebut PLTU di Jakarta Ramah Lingkungan

CNN Indonesia | Rabu, 17/07/2019 07:14 WIB
Dinas Lingkungan DKI Sebut PLTU di Jakarta Ramah Lingkungan PLTU di Muara Karang, Jakarta Utara. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta mengklaim Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ada di wilayah ibu kota tidak telalu memberi dampak buruk terhadap polusi di Jakarta.

Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Dinas LH DKI Agung Pujo Winarko mengatakan di area Jakarta ada dua pembangkit yakni pembangkit listrik milik Indonesia Power (IP) di Tanjung Priok dan Pembangkit Jawa Bali (PJB) milik PLN di Muara Karang.

Keduanya berada di wilayah administrasi Jakarta Utara. Namun, dua pembangkit itu disebut Agung sudah ramah lingkungan.


"Kedua PLTU sudah berbahan bakar yang tidak memiliki potensi besar mencemari udara," katanya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (16/7).


Hal tersebut diutarakan Agung saat dimintai konfirmasi bahwa kondisi polusi udara di Jakarta terpengaruh sejumlah PLTU di sekitarnya.

Agung mengatakan Dinas LH DKI belum memiliki kajian khusus terkait hal tersebut. Pun, begitu untuk mengetahui pengaruh PLTU di luar area Jakarta.

Oleh karena itu, sambungnya, Dinas LH DKI juga masih belum mendeteksi persentase polusi dari PLTU-PLTU tersebut. Kajian terakhir menurutnya dilakukan sekitar 2015 yang menyatakan transportasi darat sebagai penghasil polusi tertinggi di Jakarta.

"Adapun persentasenya dari transportasi darat 75 persen, dari sektor industri 9 persen, dari domestik 8 persen seperti kegiatan bakar sampah warga dan sisanya 8 persen industri lain-lain," ujar Agung.

Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Dwi Sawung mengatakan polusi dari PLTU berbahan bakar batu bara menyumbang sekitar 20-30 persen polusi udara di Jakarta.

"Transportasi itu sekitar 30 sampai 40 (persen) pembangkit itu sekitar 20 sampai 30 persen, sisanya dari bakar sampah dan lain-lain, ada juga dari sumber lain," kata Dwi di kantornya, Jakarta Selatan.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Walhi bersama Greenpeace pada 2017 silam diketahui setidaknya terdapat 10 PLTU berbahan bakar batu bara yang berpotensi menyumbang polusi di Jakarta. Selain di Jakarta, sisanya adalah di Banten dan Jawa Barat.

Selain itu, bukan hanya PLTU, Dwi Sawung mengatakan polusi pun disebabkan pula oleh industri lain yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar.

"Di Jakarta ada beberapa industri yang masih pakai batu bara untuk boilernya, kalau yang besar kita tahu ada PLN, sekitar delapan di sekitar Jakarta. Kemudian juga punya swasta kayak di Babelan. Kalau main ke sana kelihatan asapnya bisa ke arah Jakarta juga, itu kelihatan warna kuning ya kayak enggak ada filter, itu bukti PLTU berdampak [pada polusi udara]," tutur Dwi.


Selain itu, di tempat dan waktu terpisah Menteri Perencanaan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegero, menyatakan salah satu alasan pemerintah akan memindahkan ibu kota negara karena Jakarta saat ini dikepung polusi udara. Dalam diskusi bertema Pindah Ibu Kota Negara: Belajar dari Pengalaman Negara Sahabat pada 10 Juli lalu, Bambang mengatakan bukan hanya polusi udara dari kendaraan bermotor, Jakarta juga dikepung polusi dari PLTU Batu Bara.

"Tapi jangan lupa sekitar Jakarta ada PLTU Batu Bara, nah di sana [ibu kota baru] kita ingin forest city, energi-nya terbarukan dan tidak boleh lagi yang hanya sekedarnya. Intinya kita ingin bangun kota yang liveable yang nyaman dan aman bagi penghuninya,"ujar Bambang dalam diskusi yang digelar di kantor Bappenas, Jakarta Pusat tersebut.

[Gambas:Video CNN] (ctr/kid)