Caleg DPD Evi Apita Maya Sebut Wajar Pasang Foto Hasil Edit

CNN Indonesia | Kamis, 18/07/2019 19:06 WIB
Caleg DPD Evi Apita Maya Sebut Wajar Pasang Foto Hasil Edit Caleg DPD asal NTB Evi Apita Maya. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Nusa Tenggara Barat (NTB) Evi Apita Maya menyatakan kecantikan seorang perempuan merupakan hal yang subjektif.

Hal itu menanggapi permohonan sengketa pemilu DPD yang diajukan oleh calon anggota DPD Farouk Muhammad terhadap kemenangan Evi di NTB. Farouk menilai ada peran manipulasi foto Evi sehingga dia memperoleh suara terbanyak di NTB.

Menurut Evi, tudingan tersebut hanya bentuk kekecewaan Farouk yang gagal lolos menjadi anggota DPD. Menurutnya, setiap orang memiliki cara pandang tersendiri dalam menilai kecantikan seorang perempuan.


"[Memangnya] saya itu perempuan yang sangat tidak pantas untuk tampil cantik? Padahal ukuran cantik sendiri kan subjektif," ujar Evi di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis (18/7).

Evi mengaku sempat mengalaminya ketika tengah melakukan kampanye di sebuah daerah di NTB. Dia mengklaim sejumlah warga menilai wajah aslinya lebih cantik dari pada yang ada di dalam Alat Peraga Kampanye (APK).

Eks Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad (kedua kanan).Eks Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad (kedua kanan). (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
"Jadi tidak selamanya orang bilang foto saya itu lebih bagus dari pada aslinya," ujarnya.

Lebih lanjut, Evi mengungkit soal foto dirinya yang digunakan oleh sejumlah pihak sebagai pembanding dengan foto dirinya yang terpasang di APK maupun kertas suara. Ia berkata foto pembanding itu merupakan foto sepuluh tahun lalu yang diambil dari Facebook pribadinya.

"Dan di-zoom kayak apa. Jadi dicari-cari celah saya untuk tampil sejelek mungkin," ujar Evi.

Di sisi lain, Evi menyampaikan setiap calon pemimpin atau orang lain yang hendak menampilkan identitasnya di depan umum pasti ingin menampilkan yang terbaik. Bahkan, ia menyatakan setiap kepala negara di semua negara mengedit fotonya.

"Termasuk saya yang ingin tampil ikut kontestasi. Wajar dong saya [edit], masak saya foto bangun tidur. Wajar, perlulah saya dandan sedikit," ujarnya.

Tak ada komplain

Evi mengklaim tidak ada pihak atau caleg DPD di dapilnya, khususnya liaison officer atau penghubung pihak Farouk, yang menyampaikan keluhan soal foto dirinya di APK maupun surat suara selama tahapan pemilu berlangsung.

Gedung MK, Jakarta.Gedung MK, Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sehingga, ia menduga gugatan kepada dirinya hanya bentuk rasa tidak terima Farouk gagal melenggang ke parlemen. Sebab, Eva membeberkan perolehan suara dirinya lebih tinggi 100 ribu suara dari perolehan suara yang diperoleh Farouk.

"(Farouk) tidak terima kalah. Jadi dicari hal-hal yang tidak masuk akal yang saya pikir, semua orang juga bilang kasus edit foto yang berlebihan itu baru pertama kali di dunia," ujar Evi.

Terkait perolehan suara, Evi menegaskan itu bukan hanya karena foto dirinya yang diedit. Evi mengklaim latar belakangnya sebagai mantan pengurus partai Partai Amanat Nasional (PAN) dan Hanura di NTB merupakan hal yang mempengaruhi perolehan suara.

"Jadi saya ingat satu tahun sebelum ini (pemilu) saya blusukan. Jadi sangat subjektif menilai bahwa suara saya tinggi hanya karena mengedit foto yang berlebihan," ujarnya.

(jps/arh)