Mbak Tutut: Pak Harto Berhenti, Bukan Mundur

CNN Indonesia | Kamis, 18/07/2019 21:18 WIB
Mbak Tutut: Pak Harto Berhenti, Bukan Mundur Mbak Tutut menyebut ayahnya, Presiden kedua RI Soeharto, tak mengundurkan diri tapi berhenti dari posisi presiden. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Putri Presiden ke-2 RI Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, menceritakan momen sang ayah menanggalkan jabatan presiden 21 tahun lalu. Soeharto resmi melepas posisinya sebagai presiden pada 21 Mei 1998 lewat pidato yang disampaikan di Istana Negara Jakarta.

Mbak Tutut mengatakan Soeharto memilih diksi 'berhenti' bukan 'mundur' ketika menyampaikan pidato terakhir sebagai presiden ketika itu. Soeharto menyerahkan jabatan presiden kepada wakilnya BJ. Habibie.
"Bapak pakai istilah berhenti. Beliau cari kata berhenti di UUD 1945," kata Mbak Tutut usai menyerahkan arsip statis Soeharto, di Kantor ANRI, Jakarta, Kamis (18/7).

Mbak Tutut mengaku saat itu sempat bertanya kepada sang ayah alasan menggunakan diksi 'berhenti'. Menurutnya, Soeharto menjelaskan jika menggunakan istilah mengundurkan diri ketika masa tugas belum selesai berarti dirinya tak bertanggung jawab.


"Tapi kalau berhenti, saya sedang kerja, yang mempekerjakan itu tidak percaya maka saya berhenti," ujar Mbak Tutut menceritakan alasan Soeharto memakai diksi 'berhenti'.
Selain soal penggunaan kata 'berhenti', Mbak Tutut juga menanyakan alasan Soeharto tak melanjutkan tugasnya hingga selesai.

Menurut Soeharto, kata Tutut, saat itu akan banyak korban jika dirinya tetap menjabat. Soeharto juga, lanjutnya, merasa sudah tak dipercaya oleh rakyat.

"Karena itu sudah tidak dipecaya lagi kok memaksakan diri, lebih baik berhenti. Jadi biar generasi lain yang teruskan," tuturnya.

Soeharto sebelumnya terpilih kembali menjadi presiden dan dilantik untuk yang ketujuh kalinya pada 11 Maret 1998.

Menjelang pernyataan 'berhenti' Soeharto sekaligus keruntuhan Orde Baru, gelombang protes bermunculan dari kelompok pro demokrasi.

Mahasiswa maupun kelompok masyarakat lainnya melakukan aksi turun ke jalan menuntut Soeharto mundur. Bahkan sempat terjadi kerusuhan pada 13-15 Mei 1998. Puncak protes ditandai pendudukan MPR/DPR pada 18 Mei 1998.

[Gambas:Video CNN] (fra/arh)