Hal itu, kata dia, berdasarkan evaluasi pihaknya dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke-IV PPP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dengan Kuota Hare itu PPP tidak 19 [kursi], tapi 26 [kursi]," katanya.
Ilustrasi surat suara. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Sementara, Kuota Hare dipakai pada pileg-pileg sebelumnya. Ini merupakan metode konversi suara dengan cara membagi jumlah total suara yang sah dibagi dengan jumlah kursi yang tersedia di daerah pemilihan. Hasilnya, jumlah suara yang harus didapat parpol untuk mendapat satu kursi di dapil itu atau Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).
Sisa kursi yang tak dapat dipenuhi BPP-nya akan dibagikan kepada parpol-parpol yang belum mendapatkan kursi secara berurutan berdasarkan jumlah suaranya. Sementara, parpol yang sudah punya kursi tak diikutsertakan dalam penghitungan sisa suara ini. Walhasil, parpol dengan suara signifikan jumlah kursinya tak jauh beda dengan parpol menengah.
Hal itu tercantum dalam hasil dari Mukernas ke-IV PPP yang dibacakan oleh Ketua Organisasi, Keanggotaan, Ketua Kaderisiasi (OKK) DPP PPP Qoyyum Abdul Jabbar.
"Perbaikan sistem pemilu di Indonesia dengan memisahkan pelaksanaan pileg dan pilpres. Penerapan sistem tertutup dalam penentuan caleg terpilih, Perubahan metode penghitungan kursi dari sant league menjadi Kuota Hare," kata Arsul.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
Dalam Mukernas ini, seluruh kader partai menyerahkan sepenuhnya pagelaran muktamar kepada DPP, alias tak perlu mempercepat kegiatan tersebut.
"Penjadwalan pelaksanaan muktamar ke-9 diserahkan sepenuhnya kepada DPP, dengan mempertimbangkan asas manfaat dan mudhorot," katanya.
Poin lainnya yakni terkait evaluasi dan restrukturisasi kepengurusan partai di semua tingkatan berdasarkan kebutuhan organisasi yang efektif dan efisien dalam rangka persiapan verifikasi parpol menghadapi pemilu 2024.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menyebut sistem Sainte Lague lebih proporsional dalam menentukan jumlah kursi parpol di parlemen.
Artinya, parpol dengan raihan suara banyak akan meraih kursi banyak pula di parlemen, dan sebaliknya.
[Gambas:Video CNN] (tst/arh)
Ilustrasi surat suara. (
Foto: CNN Indonesia/Fajrian