Pansel KPK, kata Yenti, akan melihat masukan dari masyarakat tersebut sebagai salah satu penilaian untuk para peserta yang lolos ke tahap selanjutnya.
"Sekarang juga sudah ada beberapa masukan-masukan. Kemudian kami sudah (terima) 900 (e-mail) sekalian. Belum lagi yang ke HP (handphone) masing-masing pansel dan sudah kami masukan, kami bahas," kata Yenti di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (22/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yenti, 900 e-mail berisi rekam jejak yang telah dikirim masyarakat kebanyakan berasal dari tim sukses para calon pimpinan KPK. Dosen Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu menyatakan Pansel bakal lebih teliti membaca masukan dari masyarakat itu.
"Kami tidak menentukan jumlah yang lulus tapi kami menentukan passing grade," ujarnya.
Harkristuti menyebut masukan masyarakat yang saat ini sudah mencapai 900 e-mail akan digunakan dalam menilai para calon pimpinan KPK. Ia memastikan masukan dari masyarakat tak sekedar formalitas dalam menjaring calon komisioner lembaga antirasuah.
"Masukan-masukan itu akan kami gunakan pada sebelum wawancara. Itu sebabnya masukan dari anda semua kami tunggu sampai tanggal 30 Agustus," katanya.
Tes Psikologi
Pansel KPK telah menetapkan 104 orang lulus uji kompetensi. Mereka yang lolos wajib mengikuti tes selanjutnya, yakni tes psikologi di Pusdiklat Kementerian Sekretariat Negara, Jalan Gaharu, Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu 28 Juli.
Anggota Pansel KPK Hamdi Muluk menyebut tes psikologi dilakukan untuk melihat sejumlah aspek yang berkaitan dengan psikologi, seperti kecerdasan, analisis sintesis, kemampuan mengantisipasi masalah, ketenangan emosi, serta stabilitas emosi.
"Anda bayangkan di antara komisioner itu ada yang memiliki gangguan psikologis, itu bahaya," kata Hamdi.
"Kami cari orang yang paling tangguh. Kami potong lagi. Setelah kami potong nanti kami akan lakukan uji publik," ujarnya.
Hamdi berharap bersamaan dengan uji publik nanti laporan dari masyarakat terkait rekam jejak masuk ke Pansel KPK. Menurutnya, laporan dari masyarakat tentang rekam jejak para kandidat menjadi pertimbangan untuk melakukan wawancara.
"Jadi wawancara akhir itu seluruh aspek sudah berkumpul menjadi satu. Kita punya orang yang kompeten, kita punya orang yang fit secara psikologi untuk pekerjaan ini (pemberantasan korupsi)," kata Hamdi.
[Gambas:Video CNN] (fra/ugo)