KLHK Sebut Sisa Kosmetik dan Losion Nyamuk Cemari Sungai

frd, CNN Indonesia | Jumat, 26/07/2019 09:33 WIB
KLHK Sebut Sisa Kosmetik dan Losion Nyamuk Cemari Sungai Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Surabaya, CNN Indonesia -- Mikroplastik bukan satu-satunya limbah yang mengancam perairan Indonesia. Sebuah penelitian yang sedang didalami Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan, hal lain yang tak kalah mengancam adalah zat kimia limbah kegiatan domestik.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, MR Karliansyah mengatakan zat kimia limbah domestik itu adalah sisa pembuangan obat-obatan, pencucian kosmestik, dan lotion obat nyamuk bekas penggunaan masyarakat.

"Tanpa kita sadari di air-air sungai yang masuk ke laut itu, banyak sekali air laut yang ditemukan bekas sisa obat-obatan, kosmetik, lotion obat nyamuk," kata Karliansyah, usai bertemu dengan para akademisi di Surabaya, Kamis (25/7).


Hal tersebut, kata dia merupakan hasil penelitian pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dilakukan di sejumlah perairan sungai dan laut di Indonesia. Ia menyebutkan, zat kimia domestik itu justru lebih mendominasi dari jenis limbah lain, seperti mikroplastik.

"Yang lagi in di dunia masalah mikroplastik, ternyata ada penelitian dari guru besar IPB, di (sungai) Citarum dan Ciliwung, juga sudah ditemukan bahan lain yang patut dihindari karena itu unsur berbahaya juga," katanya.

Karliansyah mengatakan penelitian KLHK baru dilakukan di sejumlah titik dan belum mencakup semua sungai dan laut di Indonesia. Namun Karliansyah menduga pencemaran serupa juga terjadi di semua daerah. Hal itu dilihatnya dari kebiasaan masyarakat menggunakan kosmetik dan lotion.

Ditambah lagi, dari catatan KLHK, sebagian besar yang mencemari sungai di Indonesia itu 70-80 persennya adalah limbah kegiatan domestik. Limbah tersebut, kata dia, yang selama ini menggelontor tanpa diolah.

"Iya, lah, (terjadi di seluruh Indonesia), kita kan biasa tadi disampaikan, perempuan kan pakai kosmetik, nanti malam dibersihkan, ya masuk saluran perkotaan, kemudian ke sungai, ya itu ke laut, dari waktu ke waktu terakumulasi, kalau perorangan mungkin kecil, tapi karena ini sifatnya akumulatif ya numpuk," kata dia.

Ia pun mendorong agar pemerintah daerah untuk segera membuat instalasi pengolahan air limbah di daerah masing-masing, untuk mengontrol penyebaran limbah, sisa obat-obatan dan kosmetik dari kegiatan domestik tersebut.

"Kita juga sudah mendorong pemda untuk bagaimana air limbah ini bisa diolah. Kalau tidak ya sulit, sementara kalau (limbah) industri kan mudah, mereka ada kewajiban (mengatur). Kalau domestik gini kan kewajiban pemda dan pemkot untuk mengatur," kata dia. (wis/wis)