Kesaksian Anggota Damkar saat Penembakan Polisi di Cimanggis

CNN Indonesia | Jumat, 26/07/2019 11:14 WIB
Kesaksian Anggota Damkar saat Penembakan Polisi di Cimanggis Suasana di depan mapolsek Cimanggis, Kota Depok, 26 Juli 2019. Pada malam 25 Juli 2019 terjadi penembakan polisi hingga tewas oleh rekannya sesama anggota korps bhayangkara di mapolsek tersebut. (CNNIndonesia/Ryan Hadi Suhendra)
Cimanggis, Depok, CNN Indonesia -- Kamis (25/7) malam, Dede Jumadi tengah asyik berbincang dengan sejumlah temannya. Ia merupakan petugas Pemadam Kebakaran Kota Depok, Jawa Barat. Saat itu, sedang menjalani tugas pada piket malam di Damkar Unit Pelaksana Teknis (UPT) Cimanggis.

Tengah asyik berbincang, mereka dikagetkan mendengar suara tembakan dari dalam Polsek Cimanggis yang berjarak sekitar 30 meter dari tempat mereka. Situasi berubah seketika ketika suara penembakan tak hanya terdengar sekali dari markas polisi yang bertetangga dengan markas damkar itu.

"Saya cuma dengar letusan empat kali, keras banget karena di dalam ruangan. Saya lihat polisi ke luar," kata Dede saat ditemui di Kantornya, Cimanggis, Jum'at (26/7).


Ia melihat beberapa petugas polisi keluar dari polsek. Kemudian, penjagaan ketat digelar di markas polisi tersebut. Belakangan, Dede dan kawan-kawanya baru mengetahui ada penembakan anggota polisi oleh sesama polisi di ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SKPT) Polsek Cimanggis.


Situasi tersebut, kata Dede, berangsur terkendali jelang tengah malam. Saat itulah Dede melihat ada seseorang berpakaian bebas dibawa ke luar oleh anggota Provost.

"Dini hari, pelaku duluan dibawa provost. Kalau korban belum," ujarnya.

Penembakan itu terjadi sekitar pukul 20.50 WIB dengan korban adalah Brigadir Kepala Rahmat Efendi, dan terduga pelaku Brigadir RT.

Hingga berita ini ditulis, wartawan tak diizinkan melihat tempat kejadian perkara. Para anggota di Polsek Cimanggis pun enggan berbicara banyak soal kasus penembakan yang kini ditangani Polda Metro Jaya tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, penembakan tersebut dipicu kekesalan Brigadir RT terhadap Rahmat soal tindakan yang akan diberikan kepada seorang pelaku tawuran.


Sebelumnya, kurang dari setengah jam sebelumnya Rahmat mengamankan pelaku tawuran berinisial FZ ke Polsek Cimanggis dengan barang bukti celurit. Tak lama kemudian datang orang tua FZ ditemani Brigadir RT. Mereka meminta agar FZ dipulangkan guna dibina orang tuanya saja.

Namun, Rahmat menolak dan menegaskan proses hukum sedang berjalan. Mendengar penolakan Rahmat yang merupakan anggota Samsat Polda Metro Jaya tersebut, RT naik pitam dan bergerak ke ruang di sebelah ruangan SPKT. Ia lalu menembak Rahmat dengan mengunakan senjata api jenis HS 9.

Sesaat setelah kejadian, aparat kepolisian berhasil meringkus Brigadir RT dan membawanya ke Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan. Sementara itu jenazah Rahmat dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk diautopsi.

Kesaksian Anggota Damkar saat Penembakan di Polsek CimanggisWarga di Mapolsek Cimanggis untuk mendapatkan pelayanan pembuatan Surat Ketarangan Catatan Kepolisian (SKCK), Depok, 26 Juli 2019. (CNN Indonesia/Ryan Hadi Suhendra)

Seperti disiarkan CNNIndonesia TV, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono di RS Polri Kramat Jati pada dini hari tadi mengatakan, "Ini musibah yang dialami Polri khususnya Polda Metro Jaya. Ini masih kita dalami, tunggu saja."

Sementara itu, aktivitas pelayanan masyarakat di Polsek Cimanggis saat ini terlihat berjalan normal sejak pagi tadi. Masyarakat yang datang mengurus keperluan mereka dilayani petugas yang berjaga.

Pantauan CNNIndonesia.com sejak pagi tadi, sejumlah masyarakat mendatangi Polsek Cimanggis. Mereka datang untuk mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) atau dokumen lainnya.


[Gambas:Video CNN] (ryn/kid)