Gara-gara Buku PKI, Pegiat Literasi Berurusan dengan Polisi

CNN Indonesia | Senin, 29/07/2019 17:30 WIB
Gara-gara Buku PKI, Pegiat Literasi Berurusan dengan Polisi Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Surabaya, CNN Indonesia -- Dua pegiat literasi di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Muntasir Billah (24) dan Saiful Anwar (25) harus berurusan dengan polisi karena membawa empat buku bertemakan komunisme dan D.N. Aidit, salah satu tokoh penting Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Buku bertema komunisme dan Aidit itu masing-masing berjudul Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara diterbitkan oleh KPG Jakarta; Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikirian Kiri dan Revolusi Indonesia diterbitkan Komunitas Bambu; Menempuh Jalan Rakyat, D.N Aidit diterbitkan oleh Yayasan Pembaharuan Jakarta; Sebuah Biografi Ringkas D.N Aidit oleh TB 4 Saudara.

Keduanya yang tergabung dalam komunitas Vespa Literasi, dibawa ke kantor Polsek Kraksaan, Sabtu (27/7) malam, untuk diperiksa mengenai buku-buku tersebut, yang digelar di lapak baca buku gratis yang mereka buka.


Surat pemeriksaan keduanya tercantum dalam surat tanda penerimaan oleh kepolisian sektor Kraksaan, Probolinggo, bernomor STP/17/VII/2019/RESKRIM, tentang penyitaan empat buku. 

Kapolres Probolinggo AKBP Eddwi Kurniyanto membenarkan penangkapan dua pejuang literasi itu. Kendati demikian, baik Muntasir dan Saiful Anwar tak dilakukan penahanan lantaran polisi masih melakukan pendalaman.

"Kita mintai keterangan 1x24 jam, kalau tidak terbukti apa-apa ya kita kembalikan, mengenai unsur-unsurnya masuk enggak. Kalau enggak ada ya kita kembalikan," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (29/7).

Sementara itu, salah satu perwakilan Vespa Literasi, Zainul Haras R bercerita penangkapan dua temannya terjadi pada Sabtu malam.

Saat itu polisi datang ke lapak baca gratis mereka di Alun-alun Kraksaan sekitar pukul 21.00 WIB. Saat tiba di lapak polisi langsung mengambil empat buku tersebut.

"Mereka mengambil buku dengan mengatakan 'ini buku bermasalah, mas, buku ini kami sita Anda juga kami bawa untuk dimintai keterangan di kantor', begitu. Akhirnya dibawa dan diinterogasi sampai sekitar pukul 23:30 WIB," kata Zainul kepada CNNIndonesia.com.

Usai diperiksa hampir tengah malam. Zainul mengatakan rekannya diperbolehkan pulang, namun sempat diminta kembali ke Polsek setempat untuk dimintai keterangan lanjutan. Akan tetapi hingga kini pemeriksaan kepada keduanya tak kunjung dilakukan.

"Hanya saja kemarin diminta untuk datang lagi, tepatnya sekarang. Cuma ketika kita datang ke Polsek kebetulan yang bertanggung jawab tidak ada mas," ujarnya.

Zainul menuturkan dirinya bersama Muntasir, Saiful dan sejumlah rekannya di komunitas Vespa Literasi, telah rutin membuka lapak Baca Buku dan Mewarnai Gratis untuk anak-anak di Alun-alun Kraksaan, selama dua tahun terkahir.

Ia menyebutkan gerakannya itu tak lain adalah upaya untuk menumbuhkan semangat membaca masyarakat sekitar Kraksaan, Probolinggo. Ia mengaku heran dengan peristiwa penangkapan pada Sabtu malam itu.

"Komunitas yang kami dirikan ini atas dasar semangat membaca. Kegiatannya mingguan, setiap hari Sabtu dan Minggu ngelapak Baca Buku dan Mewarnai Gratis untuk anak-anak sampai malam di Alun-alun Kraksaan. Kadang kita adakan diskusi kebangsaan," ujarnya.


[Gambas:Video CNN] (frd/wis)