Terapkan Tes, PDIP Ogah Rekrut Kader Lain di Pilkada 2020

CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 21:05 WIB
Terapkan Tes, PDIP Ogah Rekrut Kader Lain di Pilkada 2020 Kantor Sekretariat DDP PDIP di Menteng, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- PDI Perjuangan menyatakan bakal kembali menerapkan uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) untuk menyeleksi calon kepala daerah yang akan diusung pada Pilkada serentak 2020.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Bambang Dwi Hartono menuturkan tes tersebut terbukti efektif membuat calon kepala daerah PDIP terpilih.

"Kalau kepala daerah kami juga lakukan fit and proper test," ujar Bambang dalam diskusi di DPP PDIP, Jakarta.


Bambang menuturkan ada tiga penekanan yang dilakukan PDIP dalam memilih kepala daerah lewat tes tersebut. Pertama, PDIP akan memeriksa ideologi setiap kepala daerah yang hendak diusung.
Ia berkata PDIP tidak ingin kader yang menjadi calon kepala daerah memiliki masalah ideologi.

Kedua, PDIP memeriksa pemahaman calon kepala daerah terhadap potensi dan masalah di wilayah pencalonan. Ia menilai sangat naif jika calon itu tidak mengetahui kedua hal tersebut.

"Ketiga, mengenai komitmen terhadap konstitusi, ideologi dan seterusnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Bambang membeberkan data yang menyebut 50,37 persen kepala daerah saat ini merupakan kader PDIP.

Secara rinci, ia menyebut persentase itu berdasarkan kesuksesan PDIP memenangkan 269 kadernya menjadi kepala daerah pada Pilkada 2015, pilkada 2017 sebanyak 101 kader, dan Pilkada 2018 sebanyak 171 kader.
Persentase itu, lanjut dia, juga mempengaruhi kemenangan Joko Widodo pada Pilpres 2019.

"50,37 persen hasil pilkada serentak itu modal untuk memasuki Pilpres 2019. Dan Alhamdulillah PDI Perjuangan untuk kemenangan Pak Jokowi menyumbang 69,1 persen," ujar Bambang.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Dalam kesempatan yang sama, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan PDIP tidak merekrut kader partai lain untuk diusung pada Pilkada serentak 2020.

Selain kader internal, ia mengklaim PDIP hanya akan merekrut kalangan intelektual dan kepala daerah untuk diusung pada Pilkada 2020.

"Kami wajib tiap calon kami dorong, beliau kami rekrut dari jalur intelektual, cendikiawan, dan jalur kepala daerah. Jadi kami bukan rkrut dari kader-kader partai lain seperti itu," ujar Hasto.

Pengamat politik Poltracking, Hanta Yudha menilai tren politik PDIP saat ini sedang naik. Ia berkata tren itu harus dipertahankan agar tidak terjadi seperti pada pemilu 1999 sampai 2009 di mana perolehan kursi PDIP menurun dari 154 kursi (1999), 2004 sebanyak 109 kursi, dan 94 kursi (2009).

"Tren PDIP ini sedang naik dan ini jadi peluang besar sekaligus menjadi tantangan. Jangan berpola zig-zag (naik turun)," Hanta.
Selanjutnya, Hanta menilai PDIP merupakan partai yang paling kuat secara institusionalisasi kelembagaan. Berbeda dengan Golkar, ia mengatakan PDIP solid karena tidak memiliki faksi di internal.

"Golkar setiap kongres melahirkan partai baru," ujarnya.

Hanta menilai PDIP memiliki figur yang relatif kuat di internal dan ekternal. Di internal, ia menyebut Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri merupakan jangkar bagi soliditas partai selama ini.

"Figur kedua, yakni Pak Jokowi dan kepala daerah. Mereka memberikan dampak positif kepada PDIP. Sebaliknya, PDIP juga memberi dampak sebaliknya," ujarnya.

[Gambas:Video CNN] (jps/pmg)