Mbah Moen, Sesepuh Penyejuk Dualisme Partai Kakbah

CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 10:14 WIB
Mbah Moen, Sesepuh Penyejuk Dualisme Partai Kakbah Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) KH Maimun Zubair alias Mbah Moen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- KH Maimun Zubair alias Mbah Moen meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji di Makkah, Arab Saudi, Selasa (6/8). Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang itu dikenal juga sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sebagai sesepuh di PPP, sosok Mbah Moen memang disegani dan dihormati. Ketika terjadi masalah di tubuh partai Kakbah itu, pria kelahiran 28 Oktober 1928 tersebut kerap menjadi penyejuk.

Contoh terakhir ketika PPP mengalami dualisme kepemimpinan, yakni kubu kepengurusan Romahurmuziy (Romi) dan Djan Faridz.


Kubu Djan Faridz bahkan pernah mengusulkan agar Mbah Moen menjadi mediator islah dengan Romi. Usulan ini kemudian disetujui kubu Romi.

Meski demikian islah tak tercapai. Dualisme tetap berlanjut ke jalur hukum.

Dalam kondisi seperti itu, Mbah Moen kemudian menemui Presiden Jokowi agar memberi perhatian terhadap konflik di PPP. Mbah Moen menilai pemerintah harus memberi sedikit intervensi dalam penyelesaian masalah perpecahan di PPP.

Muktamar islah PPP pun dilakukan. Mbah Moen turut hadir dalam muktamar tersebut. Mbah Moen hadir dalam muktamar itu karena tak ingin ada perpecahan lagi di tubuh PPP.

Namun, lagi-lagi kedua kubu tetap ngotot saling mengklaim sebagai pengurus yang sah. Islah pun kembali gagal.

Bahkan ketika Romi terjerat kasus dugaan suap di KPK, dan posisinya diganti oleh Suharso Monoarfa yang diangkat sebagai Plt Ketua Umum PPP, fatwa Mbah Moen lebih didengar.

PPP menganggap fatwa atau persetujuan dari Mbah Moen lebih penting ketimbang AD/ART partai. Hal itu lantaran Ketua DPP PPP Rudiman sempat menganggap Suharso tak memenuhi syarat sebagai Plt Ketum sebagaimana diatur AD/ART.

Di luar PPP, Mbah Moen juga adalah tokoh yang sangat disegani di NU. Nasihat dan sarannya kerap diikuti oleh banyak orang.

Dikutip dari website resmi NU, Mbah Moen merupakan seorang alim, faqih sekaligus muharrik atau penggerak. Selama ini Mbah Moen menjadi rujukan banyak ulama Indonesia dalam bidang fikih. Hal ini lantaran Kiai Maimun menguasai secara mendalam ilmu fikih dan ushul fiqh.

Tak sebatas itu, Mbah Moen juga punya pengaruh dalam dunia politik nasional, misalnya dalam setiap gelaran pemilihan presiden yang selalu jadi 'rebutan' para calon.

Pun demikian, di Pilpres 2019, Mbah Moen masih menarik perhatian dua capres, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Keduanya sudah mengunjungi Mbah Moen untuk sekadar meminta restu.

[Gambas:Video CNN] (osc/osc)