Hal itu diungkapkan Jokowi saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2019, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8).
Jokowi mengatakan masalah kabut asap kebakaran itu menjadi headline pemberitaan di Malaysia dan Singapura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BMKG Sebut 138 Titik Panas Kepung Riau |
Jokowi mengatakan kebakaran hutan dan lahan pada 2015 telah membakar lahan seluas sekitar 2,6 juta hektare dan membuat kerugian mencapai Rp221 triliun. Ia meminta kejadian kebakaran yang terjadi pada empat tahun silam tak kembali terulang.
Kabut asap di Riau disebut turut berdampak ke negara tetangga, Singapura dan Malaysia. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman) |
Menurut Jokowi, meskipun dibandingkan dengan 2015 titik panas di sejumlah wilayah menurun pada tahun ini, tetapi kalau dibandingkan dengan kejadian 2018, tahun ini justru keberadaan titik panas di sejumlah wilayah meningkat.
"Tetapi, kalau dibandingkan dengan 2018, tahun ini naik lagi. Ini yang tidak boleh. Harusnya tiap tahun turun, turun, turun terus. Menghilangkan total memang sulit tetapi harus tekan turun," kata Jokowi.
"Jangan sampai api sudah membesar baru kita bingung. Nunjang palang. Menanggulangi. Kalau sudah gede, apalagi di hutan gambut, sangat, sangat sulit sekali padamnya," ujarnya.
Hadir dalam rapat koordinasi ini antara lain Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.
Kemudian Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala BNPB Mayor Jenderal Doni Monardo, sejumlah kepala daerah, kapolda, hingga pangdam.
[Gambas:Video CNN] (fra/osc)
Kabut asap di Riau disebut turut berdampak ke negara tetangga, Singapura dan Malaysia. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)