Nada Sumbang di Balik Kalijodo yang Tak Lagi Kumuh

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 12:22 WIB
Nada Sumbang di Balik Kalijodo yang Tak Lagi Kumuh Warga beraktivitas pada sore hari di RTH Kalijodo, Jakarta. Kamis, 1 Agustus 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertengahan Februari 2016, belasan alat berat backhoe meraung di siang bolong. Menggaruk rumah-rumah bedeng di Kalijodo. Ibu-ibu histeris. Air mata merembah. Dari sudut-sudut Kalijodo, tampak raut menyeringai mengutuk buldoser yang meratakan gubuk-gubuk liar.

Papan reklame rerupa merek bir jatuh ke tanah. Menutup riwayat keperkasaan Kalijodo sebagai lokasi prostitusi legendaris ibu kota. Tak ada lagi bilik cinta 2x1,5 meter. Dentuman musik koplo lesap. Lampu sorot disko dari kafe kelas bawah, padam.

Kalijodo yang berada di Jalan Kepanduan II, Kelurahan Pejagalan Kecamatan Penjaringan mulanya dikenal jadi tempat nongkrong muda-mudi Jakarta sejak 1950-an. Namun memasuki 1970, wajahnya berubah jadi lokasi kencan singkat. Butuh 40 tahun hingga akhirnya Basuki Tjahaja Purnama-saat itu menjadi gubernur DKI, menyikatnya.


Sebelum digusur Ahok, sapaan Basuki, daerah Kalijodo pun dinilai sebagai kawasan kumuh. Ada permukiman liar yang dibangun di area yang diklaim pemprov DKI sebagai jalur hijau. Sejumlah bangunan liar tak beraturan ditunjukkan oleh rumah-rumah kontrakan kecil berdempetan. Biasanya rumah dibangun dengan konstruksi semen pada lantainya, namun triplek dan batangan kayu menjadi penegak dinding. Ahok kerap menyebut Kalijodo jadi sederet daerah yang jadi bahan olok-olok warga asing yang datang.
Kalijodo kini kini rapi, ramah anak, dan bermanfaat. Itulah tiga kata yang banyak digunakan mereka yang mendeskripsikan wilayah itu hari ini. Bermunculan nuansa ceria dari tembok warna-warni. Keriangan anak tak henti. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo jadi megnet rekreasi gratis.

"Bagus sih buat anak-anak, kegiatan keluarga. Dulu kan tempat begitu [kumuh]," ujar Sumiati (50) pengunjung Taman Kalijodo, akhir bulan lalu.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalijodo asri dengan rerumputan dan pepohonan yang terlihat baru ditanam. Ada juga skate park yang cukup luas bagi para skater uji aneka gaya. Selain itu ada juga alat kebugaran luar ruangan, namun sayang nampak tak terawat.

Mengenang penggusuran, ada sekitar 5.000-an warga yang tinggal ketika buldoser meratakan Kalijodo tiga tahun lalu. Tidak semuanya terdaftar dengan KTP DKI Jakarta. Hanya enam rukun tetangga (RT) dengan pemukim ber-KTP warga DKI. Sisanya adalah perantau. Profesi mereka mulai dari dagang sayur, tukang parkir hingga pekerja di bisnis prostitusi.

Nada Sumbang di Balik Warna-warni Taman Kalijodo (EBG)RTH Kalijodo. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Kala itu prostitusi memang mengganggu. Dari situ ada judi, orang mabuk, dan banyak preman," kata Ketua RW 05, Kelurahan Pejagalan, Astono kepada CNNIndonesia.com, dalam satu kesempatan.

Astono baru menjabat sebagai kepala RW pada 2018. Dia menjelaskan, sejumlah warga yang terdaftar di wilayah kelurahan Pejagalan direlokasi ke Rumah Susun (Rusun) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Mereka yang ber-KTP luar DKI, dipulangkan ke daerah asal. Penataan Kalijodo membawa suasana positif bagi warga setempat.

"Fungsinya sudah berubah dari konotasi negatif jadi positif lah," kata Lurah Pejagalan, Ichsan Firdaosy kepada CNNIndonesia.com di kantornya.

Nada Sumbang di Balik Warna-warni Taman Kalijodo (EBG)Skatepark Kalijodo. (REUTERS/Darren Whiteside)


Detik-detik penggusuran

Fajar Heri (38 tahun), agak kesal ketika mengingat penggusuran Kalijodo. Fajar merupakan eks warga Kalijodo yang kini tinggal di cluster A11 Rusun Marunda. Ia jadi ketua RT. Membawahi 300 warga eks Kalijodo yang senasib.

Fajar mengaku sempat mendengar bahwa penggusuran mulanya dilakukan untuk permukiman terlarang di atas jalur hijau. Prostitusi dan premanisme jadi target utama.

"Bilang kan mau tertibin lokalisasinya, tiba-tiba semuanya dihancurin," ujarnya.

Fajar berkeyakinan 'kampungnya' di Kalijodo tidak sekumuh kampung lainnya atau bahkan sama saja dengan permukiman kumuh lainnya.

"Dibilang kumuh sih kagak sekumuh yang lain, sama aja kayak kampung lainnya," ungkap Fajar.
Sama seperti Fajar, Puji (46) juga kesal. Puji pindah ke Kalijodo saat usia 15 tahun. Ia ikut kursus menjahit dan akhirnya bekerja di sebuah usaha garmen. Puji menikah dengan orang asli Kalijodo.

"Masih banyak kampung kumuh lain yang enggak diurusin," ujarnya.

Puji menceritakan kehidupannya di Kalijodo tidak terlalu terpengaruh kegiatan bisnis terlarang itu. Menurutnya, di permukiman juga kerap digelar pengajian. Warga yang bekerja di dunia prostitusi, kata dia, sangat menghargai santri, pemuka agama, dan orang tua.

"Mungkin dia kerjanya kayak begitu, tapi justru dia tahu diri," tuturnya.

Kesulitan ekonomi

Puji mengaku kegiatan ekonomi di perkampungan Kalijodo saat itu pantang redup. Bahkan hingga malam pun ia masih bisa menawarkan jasa ojeknya. Kini suami Puji berprofesi sebagai kuli bangunan. Dapat duit musiman bergantung proyek yang datang. Puji pun hanya seorang ibu rumah tangga. Mengais rezeki dari pemberdayaan yang difasilitasi Unit Pelayanan Rumah Susun (UPRS) Marunda.

"Kalau kita belum bisa mengikuti [kegiatan ekonomi] yang ada di sini. Masih meraba-raba. Semua kegiatan saya ikuti, seperti bank sampah, tapi ya gitu penghasilanya enggak jelas," terangnya.

Kepala UPRS Marunda, Ageng Darminto mengakui kehidupan ekonomi di daerah kecamatan Cilincing memang sulit. Pihaknya berupaya mengembangkan program pemberdayaan masyarakat seperti urban farming, pelatihan membatik dan berbagai keterampilan lainnya.

Nada Sumbang di Balik Warna-warni Taman Kalijodo (EBG)Penggusuran kawasan Kalijodo 2016 silam. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
"Memang ada 3 tahun setelah mereka relokasi ya tentunya ada yang kemudian kembali ke Kalijodo," ucap Ageng kepada di Rusun Marunda.

Ageng yang dulu merupakan kepala UPRS di rusun Pulogebang Jakarta Barat mengatakan eks warga Kalijodo di sana mungkin lebih beruntung karena kegiatan ekonominya lebih lancar. Banyak laporan para warga eks Kalijodo usahanya berhasil. Ada 86 kepala keluarga eks warga Kalijodo di Pulogebang.

Meski begitu, Ageng tetap mengatakan keberhasilan ekonomi juga bergantung pada kebiasaan warganya sendiri. Ada warga yang terkadang memiliki kekurangan dalam mengatur usahanya.

"Bagaimana mereka harus bisa cekatan, tapi tetap dalam pendampingan," tegasnya.

[Gambas:Video CNN] (ani/ain)