Cerita dari Rawa Bengek, Kampung Kumuh di Atas Lautan Sampah

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 10:09 WIB
Kampung Bengek berada di RW 17, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Kehidupan gubuk semi permanen di atas rawa sampah. Anak kecil berada di Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan. Jakarta Utara. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga menamai daerah yang mereka tempati dengan nama Kampung Bengek. Kampung sebelah menyebut Rawa Bengek. Topografi Kampung Bengek rumit. Lokasi ini tidak dapat diukur dari luas tanah. Permukiman di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara ini berdiri di atas rawa yang membeku karena timbunan sampah.

Rumah-rumah warga dibangun model panggung dan semi permanen. Kayu-kayu gelondongan dipatok jadi pondasi. Dinding-dinding dari triplek. Atap rumah dari seng yang sebagian besar rombeng, ditambal terpal agar tak bocor kalau hujan.

Kayu-kayu dan triplek itu diambil dari sisa bongkaran Pelabuhan Sunda Kelapa. Puluhan kepala keluarga tidur berlantai papan kayu yang saling direkatkan. Di bawah kasur mereka: lautan sampah.


Dari segi hukum, permukiman kumuh ini ilegal. Namun keberadaan Kampung Bengek-yang berumur sekitar lima tahun, merupakan konsekuensi tidak lagi ada ruang bermukim di RW 17, Muara Baru.
RW 17 telah dihuni 7.228 orang. Mereka berada di 1.816 rumah petak yang rata-rata hanya berukuran 4x4 meter. RW 17 Muara Baru saat ini tercatat sebagai kawasan kumuh kategori berat versi BPS DKI Jakarta.'Obesitas' jumlah pemukim di RW 17 memaksa warga menentukan nasib sendiri. Warga mengaku kenyang dan kembung janji penataan dari pemerintah. Apalagi janji kampanye calon anggota dewan. Menguap.

Mereka Menamakan Tanahnya Kampung Bengek (EBG)Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Alhasil, warga pilih jalan sendiri dengan melubangi tembok pembatas lahan milik PT Pelindo sekitar tahun 2014. Tembok itu mulanya sebagai pembatas antara gudang milik Pelindo dan permukiman di RW 17. Warga awalnya mematok tanah milik perusahaan pelabuhan itu sekadar membangun kandang ayam. Lama kelamaan, 'kandang' untuk mereka sendiri yang dibangun.

"Awalnya enggak ada larangan dari yang punya tanah, pada bikin kandang-kandang. Kandang ayam, kandang kambing. Lama-kelamaan ya langsung bikin tempat tinggal seperti ini," tutur Joko, salah satu warga setempat kepada CNNIndonesia.com, akhir Juli lalu.

Lebih dari lima tahun warga berdamai dengan keadaan yang tak pernah mereka impikan. Sengatan bau memacak hidung saban hari. Mulai bau kotoran manusia yang mereka buang sendiri, kotoran hewan ternak, dan kiriman sampah seantero Muara Baru yang dilempar setiap hari. Sebagian warga percaya kondisi ini jadi asal muasal nama Kampung Bengek. Kampung Bengek pun tak malu menyebut dirinya sebagai duta kekumuhan dari Penjaringan.
Di rumah triplek seukuran 3x4 meter, Joko yang kini berprofesi sebagai pemulung tidur dengan istri, tujuh anak dan tujuh cucunya. Ruang keluarga mau tidak mau sekaligus ruang tidur, sekaligus ruang menerima kami sebagai tamu siang itu. Tak ada kamar mandi di sana. Ventilasi pun tak punya.

Dalam perbincangan hangat, Joko masih ingat betul bagaimana uang mengalir deras ke tangannya saat air masih sulit didapatkan warga RW 17. Hingga tahun 2000, Joko berprofesi sebagai penjual air bersih.

Mereka Menamakan Tanahnya Kampung Bengek (EBG)Joko, pemulung dari kampung bengek (RT.5 RW.17). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Kala itu, Joko membeli air di salah seorang warga yang memasang saluran PAM. Hanya Rp5.000 modal Joko untuk membeli lima pikul air bersih atau setara sepuluh jeriken. Dengan gerobak kesayangan, ia menjajakan air bersih seharga Rp5.000 per pikul. Warga tak punya pilihan lain. Air tanah di sana terasa asin. Sementara saluran PAM belum sepenuhnya masuk ke perkampungan. Jasa Joko laris manis.
Namun semua berubah pada akhir era 2000-an, ketika warga RW 17 Muara Baru mulai memasang saluran PAM. Lambat laun bisnis Joko sepi. Ditambah lagi tenaganya tak sekuat dulu. "Kalau ada yang pesan harus mikul-mikul, saya udah tua," kata Joko sembari tertawa mengenang.

Usai makan asam garam di kampung kumuh, kini Joko mengaku pasrah terkait nasibnya tinggal di Kampung Bengek. "Iya (sadar tak bisa apa-apa kalau rumah dibongkar pemilik tanah). Kemarin juga sudah didata, dimintain KTP sama KK (Kartu Keluarga), kayaknya orang pelabuhan," tutur Joko sembari tersenyum.

Untuk menyambung hidup keluarga, pria asal Purwodadi, Jawa Tengah itu memulung di Pelabuhan Sunda Kelapa setiap pagi. Ia menyetor hasil pulung ke pengepul setiap minggu. Dia mendapat duit Rp300 ribu per bulan. Joko bilang, jika hendak buang air, ia mampir ke MCK umum.

"Saya pilih buang air besar dan kecil di MCK Umum di sebelah, di RT 4," kata dia.

 Joko mengaku tak ingin mengotori tanah tempatnya tidur dan mencari rejeki. Joko menolak berkomentar perilaku tak sehat yang kerap dilakukan para tetangga sekitar dia. 

Penelusuran CNNIndonesia.com, MCK Umum memang menjadi pilihan warga pengontrak di sekitar RW 17. MCK umum berdiri dalam bangunan 15x10 meter.

Mereka Menamakan Tanahnya Kampung Bengek (EBG)Atmowiyoto, sang pengelola MCK Umum di RW 17 Muara Baru. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Bangunannya nampak tua, tanpa keramik. Beratap seng yang melambai saat tertiup angin. Bangunan MCK umum ini terdiri 12 belas bilik. Masing-masing bilik seukuran 1x1 meter. Delapan bilik khusus buang air, sedangkan sisanya khusus mandi. Tak ada pintu, hanya selembar asbes setinggi 1 hingga 1,8 meter menutup bilik saat dipakai.

"Sehari paling 30-35 orang yang ke sini," tutur Atmawiyanto, si pengelola MCK.

Pelanggan MCK umum mereka yang mengontrak di RW 17 dan umumnya tak memiliki kamar mandi sendiri. Atmawiyanto menarik uang Rp1.000 untuk buang air, Rp2.000 untuk mandi, dan Rp3.000 untuk mencuci pakaian.

Rumah Joko dan MCK Umum hanya sebagian kecil dari kisah getir di Kampung Bengek. Namun tanpa sapa dan perhatian pemerintah, denyut kehidupan terus berjalan di kampung duta kumuh Muara Baru ini. Sambil ikhtiar cari nafkah melawan 'keganasan' ibu kota, warga memilih tetap bertahan. Bagi mereka, kondisi demikian sudah cukup baik, ketimbang tidur di emperan toko, atau menidurkan anak dalam gerobak berjalan.

Sehari merekam denyut Kampung Bengek, hampir tak ada nada keluh tentang kesulitan hidup. Rumpian meriah para ibu-ibu tetap terdengar di lorong-lorong remang. Anak-anak tanpa alas kaki tetap bermain tertawa riang. Kocokan arisan kecil-kecilan, sisa rujak, dan tumpukan kartu remi di meja samping warung jadi saksi keguyuban. Tagihan listrik atau ancaman tukang kredit, bagi mereka bisa jadi bahan canda. Meski dalam hati tetap ada cemas.

"Saya gak akan melawan ketika kampung ini mesti digusur. Saya cuma bisa berdoa sama Allah, mudah-mudahan masih bisa lebih lama di kampung ini," kata Muhammad, warga kampung Bengek lainnya.

[Gambas:Video CNN] (dhf/ain)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK