Rumah-rumah warga dibangun model panggung dan semi permanen. Kayu-kayu gelondongan dipatok jadi pondasi. Dinding-dinding dari triplek. Atap rumah dari seng yang sebagian besar rombeng, ditambal terpal agar tak bocor kalau hujan.
Kayu-kayu dan triplek itu diambil dari sisa bongkaran Pelabuhan Sunda Kelapa. Puluhan kepala keluarga tidur berlantai papan kayu yang saling direkatkan. Di bawah kasur mereka: lautan sampah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Buku Harian dari Kampung Kumuh |
Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. (CNN Indonesia/Dhio Faiz) |
"Awalnya enggak ada larangan dari yang punya tanah, pada bikin kandang-kandang. Kandang ayam, kandang kambing. Lama-kelamaan ya langsung bikin tempat tinggal seperti ini," tutur Joko, salah satu warga setempat kepada CNNIndonesia.com, akhir Juli lalu.
Lihat juga:Menanti Sentuhan Anies di Kampung Akuarium |
Dalam perbincangan hangat, Joko masih ingat betul bagaimana uang mengalir deras ke tangannya saat air masih sulit didapatkan warga RW 17. Hingga tahun 2000, Joko berprofesi sebagai penjual air bersih.
Joko, pemulung dari kampung bengek (RT.5 RW.17). (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Usai makan asam garam di kampung kumuh, kini Joko mengaku pasrah terkait nasibnya tinggal di Kampung Bengek. "Iya (sadar tak bisa apa-apa kalau rumah dibongkar pemilik tanah). Kemarin juga sudah didata, dimintain KTP sama KK (Kartu Keluarga), kayaknya orang pelabuhan," tutur Joko sembari tersenyum.
Untuk menyambung hidup keluarga, pria asal Purwodadi, Jawa Tengah itu memulung di Pelabuhan Sunda Kelapa setiap pagi. Ia menyetor hasil pulung ke pengepul setiap minggu. Dia mendapat duit Rp300 ribu per bulan. Joko bilang, jika hendak buang air, ia mampir ke MCK umum.
"Saya pilih buang air besar dan kecil di MCK Umum di sebelah, di RT 4," kata dia.
Joko mengaku tak ingin mengotori tanah tempatnya tidur dan mencari rejeki. Joko menolak berkomentar perilaku tak sehat yang kerap dilakukan para tetangga sekitar dia.
Penelusuran CNNIndonesia.com, MCK Umum memang menjadi pilihan warga pengontrak di sekitar RW 17. MCK umum berdiri dalam bangunan 15x10 meter.
Atmowiyoto, sang pengelola MCK Umum di RW 17 Muara Baru. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Sehari paling 30-35 orang yang ke sini," tutur Atmawiyanto, si pengelola MCK.
Pelanggan MCK umum mereka yang mengontrak di RW 17 dan umumnya tak memiliki kamar mandi sendiri. Atmawiyanto menarik uang Rp1.000 untuk buang air, Rp2.000 untuk mandi, dan Rp3.000 untuk mencuci pakaian.
Rumah Joko dan MCK Umum hanya sebagian kecil dari kisah getir di Kampung Bengek. Namun tanpa sapa dan perhatian pemerintah, denyut kehidupan terus berjalan di kampung duta kumuh Muara Baru ini. Sambil ikhtiar cari nafkah melawan 'keganasan' ibu kota, warga memilih tetap bertahan. Bagi mereka, kondisi demikian sudah cukup baik, ketimbang tidur di emperan toko, atau menidurkan anak dalam gerobak berjalan.
Sehari merekam denyut Kampung Bengek, hampir tak ada nada keluh tentang kesulitan hidup. Rumpian meriah para ibu-ibu tetap terdengar di lorong-lorong remang. Anak-anak tanpa alas kaki tetap bermain tertawa riang. Kocokan arisan kecil-kecilan, sisa rujak, dan tumpukan kartu remi di meja samping warung jadi saksi keguyuban. Tagihan listrik atau ancaman tukang kredit, bagi mereka bisa jadi bahan canda. Meski dalam hati tetap ada cemas.
"Saya gak akan melawan ketika kampung ini mesti digusur. Saya cuma bisa berdoa sama Allah, mudah-mudahan masih bisa lebih lama di kampung ini," kata Muhammad, warga kampung Bengek lainnya.
[Gambas:Video CNN] (dhf/ain)
Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Atmowiyoto, sang pengelola MCK Umum di RW 17 Muara Baru. (CNN Indonesia/Andry Novelino)