Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan Ansori mengatakan sebagian besar lahan yang terbakar di dua desa di Kecamatan Pemulutan Barat dan tiga desa di Kecamatan Indralaya Utara tersebut bukan milik warga sekitar.
Menurut Ansori, lahan tersebut milik beberapa pejabat yang kehabisan modal untuk mengelola.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan tanah di lahan tersebut bersifat asam sehingga sulit dimanfaatkan untuk pertanian.
Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan. (CNN Indonesia/Hafidz) |
Lahan gambut di kawasan tersebut sulit terbakar akibat kekeringan. Lahan itu masih mengandung air yang menyebabkan lahan tetap basah.
Lahan asam yang tidak bisa ditanami pertanian tersebut, menurutnya, menjadikan aksi membakar lahan untuk membuka lahan menjadi percuma. Namun setiap tahunnya diketahui memang kawasan itu langganan kebakaran.
"Penyebab awal secara teori tidak mungkin hidup sendiri, jadi kemungkinan besar dibakar. Tapi kalau dibakar untuk apa. Motifnya enggak jelas kalau ini ulah manusia karena lahannya bukan untuk dimanfaatkan. Kemungkinan besar kelalaian," ujar dia.
Saat ini, kebakaran di sekitar jalan Tol Palembang-Indralaya tersebut sudah padam. Pihaknya memantau titik api yang terjadi pada Kamis (8/8) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Lahan gambut bervegetasi purun seluas 139 hektare sebelumnya terbakar di lima desa dari dua kecamatan Kabupaten Ogan Ilir, termasuk kawasan sekitar tol Palindra sejak Jumat (2/8). Kebakaran baru bisa diantisipasi dan dipadamkan pada Rabu (7/8).
[Gambas:Video CNN] (idz/pmg)
Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan. (CNN Indonesia/Hafidz)