Sarjono adalah sosok yang memimpin 13 rekannya untuk berikrar kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila, Selasa (13/8) pagi, di lantai 6 Gedung Kementerian Koordinasi Bidang Politik, Hukum, Keamanan (Polhukam).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana pagi itu mengharukan saat lima butir janji setia itu diungkapkan oleh mereka dengan lantang. Satu persatu mereka mencium merah putih, dengan disaksikan oleh Menkopolhukam Wiranto, sejumlah pejabat eselon Kemenko Polhukam, dan pejabat Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP).
Sarjono (tengah) bersama 13 rekannya yang merupakan eks DI/TII. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Sang 'Putra Mahkota' DI/TII ini mengaku ikrar tersebut diucapkan bukan karena dibayar pemerintah atau dijanjikan sesuatu. Menurutnya, keinginan untuk setia terhadap NKRI ini jauh telah tumbuh sejak 1962 silam.
"Kami membela negara, mau janji tidak janji, enggak dibayar. Tapi saya perlu dengan negara ini," kata pria paruh baya ini.
Namun demikian, ia mengaku butuh banyak dukungan dari beberapa pihak hingga pada akhirnya mau mengucap janji setia kepada NKRI.
"Karena harus ada dukungan dari semua pihak. Dari pemerintah, Menko Polhukam, dari kawan-kawan yang mengelilinginya. Kita harus mendapat dukungan dulu. Kalau dari saya seorang diri ngapain, ngapain seorang diri? Kan enggak ada dukungan," kata dia.
Peserta ikrar mencium bendera merah putih. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Kenapa merasa berkhianat? Perjuangan itu kan berubah setiap saat. Setiap saat berubah perjuangan itu, dulu berjuang itu pakai senjata, sekarang senjatanya enggak ada," kata dia.
Dia pun mengaku akan segera berkumpul dan berbincang dengan para pengikutnya yang ia sebut mencapai 2 juta orang itu soal ikrar ini. Sarjono mengakui masih banyak anggota DII/TII yang tinggal di pedalaman dan dikejar layaknya buronan karena disangka sebagai pengkhianat negara.
Ia pun menggarisbawahi soal pentingnya hidup tenang, bebas, tanpa dikejar-kejar.
"Daripada di hutan coba; makanan enggak ada, dikejar-kejar. Ya enak di sini," cetus dia.
Kini, Sarjono menetap di daerah Malangbong, Garut, Jawa Barat, bersama keluarganya. "Sekarang santai-santai saja di rumah," ucapnya.
Sejarawan Deliar Noer, dalam buku 'Partai Islam di Pentas Nasional', menyebut DI/TII di Jawa Barat muncul saat pasukan Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah akibat hasil dari perjanjian Renville yang tak memasukkan provinsi itu sebagai bagian RI.
Presiden pertama RI Sukarno memerintahkan tindakan tegas terhadap DI/TII pada 1953. (AFP PHOTO) |
Sejarawan Universitas Indonesia Mohammad Iskandar menyebut DI/TII kerap melakukan teror dan mengambil logistik masyarakat dalam rentang 1949-1962.
Presiden Sukarno geram dengan sepak terjang pemberontakan ini. Saat berpidato di Istana Negara, Jakarta, pada 17 Agustus 1953, ia pun menginstruksikan aparat untuk mengambil tindakan tegas.
Pemberontakan DI/TII baru berakhir pada 1962 lewat Operasi Barata Yudha atau Operasi Pagar Betis. Kartosoewiryo saat itu ditangkap di Gunung Beber, Majalaya, lalu dieksekusi mati di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.
[Gambas:Video CNN] (arh/gil)
Sarjono (tengah) bersama 13 rekannya yang merupakan eks DI/TII. (
Peserta ikrar mencium bendera merah putih. (
Presiden pertama RI Sukarno memerintahkan tindakan tegas terhadap DI/TII pada 1953. (