HUT KEMERDEKAAN RI KE-74

Doa Kiai Kedu, Bambu Runcing, dan Bekal Perang Laskar Pejuang

CNN Indonesia | Sabtu, 17/08/2019 09:04 WIB
Pada masa revolusi kemerdekaan, sebuah kecamatan berhawa sejuk di antara Gunung Sindoro dan Sumbing menjadi hangat karena semangat juang laskar dan doa kiai. Aksi pemeran pejuang menggunakan bambu runcing dalam pementasan Surabaya Membara, malam 9 November 2018. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbondong barisan laskar dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR)--cikal bakal TNI--menuju ke Parakan, sebuah kota kawedanaan di kaki antara dua gunung, Sindoro-Sumbing yang berada di Karesidenan Kedu saat masa perang kemerdekaan.

Ribuan prajurit TKR, serta laskar-laskar Hizbullah dan Sabilillah membanjiri kota kawedanaan Parakan dengan menggenggam bambu runcing, senjata yang dianggap lumrah dipegang prajurit kala itu. 

Para prajurit tersebut akan menuju Surabaya dan Semarang untuk membantu mengusir penjajah. Namun sebelum pergi ke medan tempur, mereka menyempatkan diri untuk ke Parakan di mana tinggal seorang kiai bernama Subeki--kerap juga ditulis Subki atau Subchi.



Komandan Hizbullah di Kedu, Saifuddin Zuhri dalam autobiografinya, Guruku Orang-orang dari Pesantren  menulis, para prajurit dan anggota laskar itu berbondong-bondong ke Parakan dengan satu tujuan: berharap doa dari Kiai Subeki.

'Bismi Allahi, Ya Hafidzu, Allahu Akbar! Dengan Nama Allah, Ya Tuhan Maha Pelindung, Allah Maha Besar! Ternyata, setelah memperoleh doa dari Kiai Subeki, anak-anak ini mempunyai kebulatan hati yang tak tergoyahkan menuju pertempuran, dan mempunyai ketabahan untuk bertawakal kepada Allah SAW dengan keberanian serta keikhlasan,' tulis Saifuddin 

Pria yang kemudian menjadi Menteri Agama saat Kepresidenan Sukarno itu mengatakan setelah peristiwa tersebut, lama-lama laskar dan TKR dari lain daerah yang akan bertempur pun kerap meminta doa dulu dari Kiai Subeki.

Parakan yang kini berada di administrasi Kabupaten Temanggung itu pun kemudian dikenal sebagai simpul perjuangan laskar santri.

'Pernah Panglima Besar Sudirman dengan anak buahnya pun singgah dulu ke Parakan untuk meminta berkah dan doa Kiai Subeki sebelum menuju ke Ambarawa dan lain-lain pertempuran,' tulis Saifuddin yang autobiografinya diterbitkan pada 1974 tersebut.

B.Kiai Bambu Runcing dari Parakan [HOLD]Patung Jenderal Besar TNI Sudirman di Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Belakangan, seperti dikutip dari NU Online--situs yang di bawah pengelolaan PB Nahdlatul Ulama, menyatakan peristiwa yang terjadi pada masa revolusi itu telah membuat Kiai Subeki dikenal pula dengan julukan Kiai Bambu Runcing.

Sejarawan Universitas Padjadjaran Widyo Nugrahanto mengatakan berkah dari seorang pemuka agama yang kemudian menyebar dari mulut ke mulut itu lazim muncul di era perang kemerdekaan.

"Seorang pemuka agama memberi sesuatu kekuatan atau suatu daya magis kepada para pejuang itu, misalnya lewat bambu runcing, sehingga tokoh-tokoh itu bisa disebut kiai bambu runcing," tuturnya, Senin (12/6).


Kisah yang menyelimuti pribadi Kiai Subeki itu, sambung Widyo, adalah bagian dari upaya untuk membakar semangat masyarakat Indonesia dalam melawan para penjajah. Sama halnya seperti takbir yang dilantangkan Bung Tomo saat pertempuran 10 November 1945.

Selain membakar semangat, doa yang diberikan pun memberikan kepercayaan diri mendapat berkah keselamatan atau kebal peluru dan sebagainya.

"Itu diberikan oleh tokoh-tokoh yang dianggap memiliki magis itu memiliki kekuatan gaib, biasanya tokoh agama, bisa tokoh-tokoh kepercayaan lokal, bisa kiai,  untuk memberi semangat pada peperangan," ujar Widyo.

Peneliti sejarah kolonialisme dan Indonesia modern Andi Achdian mengonfirmasi begitu tenarnya kisah tentang Kiai Subeki, termasuk kunjungan Jenderal Sudirman. Apalagi, menurutnya, doa-doa kekebalan dalam pertempuran adalah kisah umum yang terjadi.

"Kemungkinan bahwa Kiai Subeki memberikan doa kekebalan itu tentu ada," katanya.

Di luar itu, secara historis Andi mengatakan kisah bambu runcing itu menyebutkan peranan tumbuhan rumpun tersebut saat perang kemerdekaan Indonesia, yakni sebagai simbol yang meningkatkan daya juang bangsa Indonesia.

"Ia [bambu runcing] meningkatkan moral tempur para laskar dalam menghadapi kekuatan militer Inggris/Belanda yang lebih canggih," ucap Andi.

Soal bambu runcing digunakan pula sebagai simbol pun dikonfirmasi pula Sewan Susanto yang pernah bertugas di Front Kedu Utara bersama kelompok tentara pelajar.

'Senjata bambu runcing merupakan senjata lambang perang gerilya dalam perang kemerdekaan Indonesia,' tulis Sewan di buku Perjuangan Tentara Pelajar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1985).

B.Kiai Bambu Runcing dari Parakan [HOLD]Aksi memerankan pejuang Indonesia melawan pasukan Inggris pada pementasan drama kolosal Surabaya Membara di Surabaya, Jawa Timur, malam 9 November 2018. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)


Air Mata Kiai Subeki dan Doa untuk Laskar Pejuang


Perihal banyaknya laskar pejuang yang datang ke Parakan meminta doa kepada Kiai Subeki itu pernah ditanyakan langsung oleh Saifuddin Zuhri. Saifuddin mengisahkan kala itu dirinya mengantar KH Wahid Hasyim, Zainul Arifin, dan KH Masykur ke rumah Kiai Subeki.

'Ketika itu, di rumahnya telah penuh berjejal para tetamu, dan kota Parakan yang kecil jadi tidak bisa lagi memuat begitu banyak orang yang membanjir. Kiai Subeki didampingi oleh KH Nawawi dan KH Mandur, pemimpin Sabilillah daerah Kedu meminta kami masuk ke kamar tidurnya,' tulis Saifuddin.

Di dalam kamar tersebut, Saifuddin berkisah bahwa Kiai Subeki dengan air mata menggenang mengaku heran begitu banyak yang datang kepada dirinya sebelum berjuang. Wahid Hasyim pun mencoba membesarkan dengan menyatakan bahwa mereka meminta doa dari Kiai Subeki.

'Beliau menangis dengan isaknya. Lama kami semua diam. Di luar terdengar gemuruh orang berduyun-duyun membanjiri halaman Kiai Subeki. "Coba tengok di luar! Mereka terus datang dan datang. Begini banyak orang membanjir kemari tanpa henti, siang maupun malam!" Kiai Subeki sambil memandang ke luar dari jendela kamar tidurnya,' tulis Saifuddin.

Sekali lagi, Wahid Hasyim, kembali mencoba membesarkan hati Kiai Subeki.

'..."Tetapi mengapa mesti kepada saya. Mengapa tidak kepada Kiai Dalhar Watucongol, atau Kiai Siraj di Payaman, atau Kiai Hasbullah di Wonosobo." Kiai Subeki seperti dalam keadaan penasaran,' tulis Saifuddin ketika Kiai Subeki kembali menangkis Wahid Hasyim.

Saifuddin menerangkan Kiai Subeki pun beralih kepada dirinya, lalu serupa Wahid Hasyim, ia pun mencoba membesarkan hati Kiai Parakan tersebut. Selanjutnya, Kiai Subeki kembali bertanya kepada Wahid Hasyim, dan ketika hati sang pemuka agama yang kala itu telah berusia 90an tahun itu mantap mereka pun bersama-sama keluar dari kamar tidur itu menemui para laskar pejuang dan mendoakan mereka.

'Dataran tinggi yang udaranya sejuk, di hari akhir-akhir ini menjadi hangat dan bahkan terasa panasnya karena semangat tinggi yang berkobar-kobar dari orang-orang yang siap sedia mati syahid. Mereka datang membanjiri Parakan untuk men-Sabilillah-kan bambu runcing dan karaben-karaben mereka dengan doa Kiai Subeki,' tulis Saifuddin.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), mendiang Ahmad Adaby Darban, dalam penelitiannya 1987-1988 menuliskan di Parakan itu pulalah berdiri Barisan Muslimin Temanggung (BMT) pada 30 Oktober 1945 di Masjid Kauman yang turut menggencarkan operasi gerilya melawan sekutu. Termasuk saat pertempuran di Ambarawa pada Oktober-Desember 1945.

Dan, berdasarkan wawancara sang peneliti terhadap KH Noer Ali--putera Kiai Subeki--perihal penggunaan bambu runcing atau cucukan sebagai senjata untuk mengusir penjajah itu ternyata telah dibicarakan sebelum Jepang masuk ke Jawa pada 1941.

Dalam pertemuan dengan KH Noer, Ali, dan Lurah Mas'ud (adik Kiai Subeki) dibicarakan tentang strategi menghadapi perang dan persenjataan perang. Untuk pasukan dibentuk Hizbullah dan Sabilillah yang dikoordinasi kiai. Namun, muncul persoalan saat membahas senjata yang akan dipakai mengingat penjajah memiliki persenjataan berat dan mematikan. Akhirnya disepakatilah bambu atau cucukan.

'Menurut argumentasi KH Noer tentang memakai cucukan itu ialah karena bila bambu melukai sukar disembuhkan dan lebih berbahaya, di samping itu rakyat mudah membuat dan mendapatkannya untuk segera dipergunakan,' demikian hasil wawancara Ahmad Adaby Darban dengan KH Noer seperti dikutip dari penelitian berjudul Sejarah Bambu Runcing.


[Gambas:Video CNN] (dis/kid/sur)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK