Mengenang Rumah Sukarno, Titik Api Pembacaan Proklamasi

CNN Indonesia
Sabtu, 17 Agu 2019 14:49 WIB
Teks Proklamasi dibacakan di halaman rumah Sukarno. Namun rumah tersebut sudah dibongkar dan tak dibangun lagi oleh pemerintah meski berkali-kali diajukan. Kawasan Tugu Proklamasi yang sedang dibenahi untuk peringatan HUT ke-74 RI, 8 Agustus 2019. (CNN Indonesia/ Aria Ananda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Proklamasi kemerdekaan RI akhirnya disepakati secara aklamasi untuk dibacakan Sukarno di teras halaman rumahnya yang berada di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Halaman rumah Bung Karno diputuskan jadi lokasi pembacaan Proklamasi karena khawatir Jepang membuyarkan pembacaan proklamasi jika dilakukan di Lapangan Ikada (sekarang Monas).

Rumah itu sendiri saat ini sudah tak ada, berganti menjadi kawasan monumen proklamasi yang dibaluti sebuah taman dan gedung.

Doktor Sejarah Rushdy Hoesein menceritakan bagaimana Sukarno mendapatkan rumah tersebut. Awalnya, Sukarno mendapatkan rumah di Jalan Diponegoro Nomor 11 bersama dengan Inggit Ganarsih pada 1940. Namun, rasa tidak nyaman mendera mereka di rumah tersebut.

Sukarno menginginkan rumah yang lebih besar dengan halaman yang luas. Akhirnya, Sukarno pun diberikan rumah di Pegangsaan 56 oleh Hitoshi Shimizu, atase sipil di Lembaga Propaganda Kekaisaran Jepang. Sukarno pun merasa cocok. Dia bersama Inggit pun tinggal di sana sebelum akhirnya Inggit pergi meninggalkan Sukarno karena menolak dimadu.

Pascakepergian Inggit, Sukarno yang telah memperistri Fatmawati pun tinggal di rumah itu. 

"Fatmawati datang bersama ayah dan ibunya tinggal di situ, kebahagiaan baru bagi Sukarno," ujar Rushdy saat ditemui CNNIndonesia.com, Selasa (13/8).


Waktu berlalu, rumah tersebut selalu menjadi tujuan pulang Bung Karno. Hingga akhirnya, Sukarno memilih untuk membacakan teks Proklamasi di kediamannya.

Di rumah itu, rakyat datang untuk mendengarkan pembacaan teks proklamasi. Selain Sukarno-Hatta, pejuang-pejuang lainnya dari kalangan pemuda juga datang. Sebatang bambu ditanam layaknya tiang bendera untuk mengibarkan Merah Putih.

Tinggal Kenangan

Rushdy bercerita pada 1950, ayahnya membawanya ke rumah Sukarno untuk mengenang peristiwa Proklamasi 1945.

"Bapak saya bawa saya ke situ tahun '50, dia bilang, 'Ingat rumah ini saksi bisu terjadi Proklamasi'," ujarnya.

Namun setelah merdeka tepatnya tahun 1964, Sukarno memilih untuk menghancurkan rumah tersebut. Rushdy mengaku pilihan itu tanpa diiringi alasan yang jelas. 

Rushdy enggan berspekulasi lebih dalam. Dia menyatakan hanya Bung Karno yang mengetahui alasan sebenarnya dihancurkan rumah tersebut.

Sementara itu, Sejarawan JJ Rizal mengatakan penghancuran rumah itu sebagai upaya melawan feodalisme agar dapat memimpin Indonesia dengan ide.

"Rumah Bung Karno yang dihancurkan sendiri oleh Bung Karno dengan alasan melawan kecenderungan feodalisme dan Indonesia harus dipimpin oleh ide jadi rumahnya dijadikan gedung pola, pola itu rencana, rencana itu basisnya ide, itu Bung Karno sendri yang menghancurkan," ujar Rizal saat ditemui CNNIndonesia.com, Sabtu (10/8).

2. Tulisan 17: Mendengungkan Pembangunan Rumah Sukarno (Hold)Sejarawan JJ Rizal. (CNN Indonesia/ Gloria Safira Taylor)
Baik JJ Rizal maupun Rushdy, sama-sama menyayangkan rumah Sukarno yang bersejarah itu tak coba dibangun kembali oleh pemerintahan selanjutnya. Malah, sambungnya, dibangun monumen Proklamasi di sana. Setidaknya ada tiga tugu yang bisa ditemui yakni tugu petir, tugu perempuan, dan patung Sukarno-Hatta dengan naskah proklamasi di tengahnya.

Rushdy menyayangkan selama enam kali pergantian presiden, tak satu pun menyetujui untuk membangun kembali rumah tersebut. Semuanya rata, tidak memberikan alasan.

Pada era Soeharto, Rushdy menceritakan, sejumlah tokoh datang menemui Soeharto dan menyampaikan mereka ingin agar rumah itu kembali dibangun. Namun Soeharto menanyakan kembali kenapa rumah itu bisa dihancurkan.

"Soeharto bertanya siapa yang bongkar rumah itu? (Dijawab) Bung Karno. (Soeharto menjawab) Nah! itu kan sejarah, kata Pak Harto. Nanti saya akan bebaskan tanah di situ, saya akan bikin patung proklamator. Itu yang bangun Pak Harto tahun '80," tuturnya.

Hingga kini, Rushdy menyayangkan tak satupun presiden memenuhi permintaannya untuk membangun kembali rumah itu. Pun dengan Megawati Soekarnoputri yang merupakan anak kandung Sukarno.

Saat Joko Widodo (Jokowi) menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Rushdy pribadi mengaku pernah memintanya untuk membangun kembali rumah itu. Namun hal itu tidak pernah terjadi. Begitu juga ketika Jokowi menjadi presiden, proposal yang diajukannya justru hanya diberikan kepada Luhut Binsar Panjaitan (kini Menko Kemaritiman).

"Rumah itu tetap sebagai kenangan. Habis Pak Harto, Habibie enggak setuju, Gusdur enggak setuju, Megawati juga enggak setuju, dan SBY timbang-timbang akhirnya tidak setuju, Jokowi pun tidak setuju," ucapnya.

2. Tulisan 17: Mendengungkan Pembangunan Rumah Sukarno (Hold)Tugu Petir di kawasan Taman Proklamasi, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/ Aria Ananda)

Sementara itu, Rizal menilai sebaiknya dimulai kembali niat mengembalikan Rumah Sukarno itu didengungkan agar bisa membuktikan kepada anak cucu bangsa bahwa pada 1945, di halaman rumah tersebut telah terjadi peristiwa yang menentukan langkah sebagai bangsa yang merdeka.

"[Saat ini] yang tidak diurus dengan baik menurut saya adalah Tugu Proklamasi. Ketika kita ke sana kita akan bertanya yang benar yang mana [titik tempat Sukarno membaca proklamasi], karena ada tiga tugu di situ: tugu yang dibuat Orde Baru, tugu yang dibuat Syahrir, dan tugu yang dibuat Bung Karno yang lambangnya geledek itu. Kalau ditanya di mana proklamasi dibacakan semua orang kan bingung. itu yang harus diperbaiki dan niat untuk mengembalikan rumah Soekarno itu kan juga harus didengungkan," ucapnya.

Di kalangan sejarawan ada yang menduga tugu petir yang dibuat Sukarno itu adalah tempat dirinya berdiri saat membaca teks proklamasi.

Di satu sisi, Rushdy pun mengkritik peringatan Proklamasi RI di tingkat nasional yang digelar di Halaman Istana Merdeka. Menurut Rushdy, Istana Merdeka adalah warisan kolonial, sehingga seharusnya upacara kemerdekaan digelar di tempat yang sama pada 1945 silam.

"Mereka lebih setuju merayakan kemerdekaan di istana kolonial, Istana Merdeka itu kan istana kolonial. masa kita mesti mewarisi nilainya kolonialisme, ketika orang menghormati rumah proklamasi dirayakan mestinya secara tetap di situ setiap tahun, siapa yang ingat? enggak ada yang ingat. Mungkin pertanda bahwasanya kita sudah lupa kepada peristiwa sejarah," tutur Rushdy.

2. Tulisan 17: Mendengungkan Pembangunan Rumah Sukarno (Hold)Sejarawan Rushdy Hoesein. (CNN Indonesia/ Gloria Safira Taylor)

Bukan hanya proklamasi, di rumah itu pulalah terjadi dialektika antara Sukarno dan Hatta bersama Sutan Sjahrir, Chairul Saleh, Wikana, serta Sukarni perihal pembacaan proklamasi menunggu kepastian dari Jepang atau tidak pada 1945 silam. Dan, pada akhirnya setelah pertemuan di Asrama Baperpi, Cikini 71 , Sukarni dkk sepakat untuk membawa Sukarno - Hatta menyingkir dari Jakarta terlebih dahulu.

Lalu, dibawalah Sukarno dari rumahnya pada dini hari 16 Agustus 1945 ke Rengasdengklok, sebelum mereka kembali lagi pada tengah malam untuk menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Menteng, Jakarta.

Sukarno pun menggambarkan suasana jelang pembacaan Proklamasi di depan dan sekitar rumah terasnya itu lewat buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

'Semua jalanan yang menuju rumah Bung Karno dipenuhi rakyat. Satu kendaraan menurunkan dua puluh mahasiswa. mereka berada dalam kendaraan itu, di atasnya, di tempat bagasi, di mana saja. Tetapi semuanya teratur. Tidak ada suara hiruk pikuk. Mereka telah diberitahu bahwa aku sedang sakit. Selain itu, setiap orang gugup dan tegang,' ujar Sukarno dalam buku yang dituliskan Cindy Adams tersebut.

'Bagaimanapun mereka menyadari harus ada rakyat berkumpul untuk mendengarkan Bung Karno menyatakan kemerdekaan mereka. Engkau tidak mungkin menyiarkan proklamasi seorang diri. Sebuah proklamasi memerlukan pendengar,' sambungnya.

Akhirnya, dibacakanlah proklamasi pada pukul 10.00 yang dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih yang telah dijahit istri Sukarno, Fatmawati.

'Setelah Proklamasi dibacakan dan bendera nasional Sang Saka Merah Putih dinaikkan sebagai tanda bangsa Indonesia sudah merdeka, bernegara, dan berdaulat, serta lagu Indonesia Raya dinyanyikan, rakyat bersorak dan bergembira. Kami duduk sebentar kira-kira setengah jam. sesudah itu aku pulang ke rumah. Di rumah sudah menunggu sanak saudaraku yang berpencar tinggalnya di Jakarta Semuanya terharu dan memberi selamat Indonesia merdeka,' tulis Hatta dalam autobiografi, Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan.

Sementara itu, Fatmawati meriwayatkan catatan pada detik-detik bersejarah itu orang-orang seolah tidak berdiri sendiri.

'Kita diliputi suatu suasana gaib yang mengikat kita semua,' ujarnya dalam buku Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno.

Ia menggambarkan bagaimana raut wajah orang-orang di sekitarnya saat barisan kalimat proklamasi dibacakan Sukarno. Ada yang terisak terharu seperti halnya dirinya mengingat perjuangan dan darah berpuluh, bahkan beratus-ratus tahun yang telah ditumpahkan rakyat Indonesia.


[Gambas:Video CNN] (gst, kid/stu)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER