Analisis

Muktamar 'Biasa' dan Langgengnya Cak Imin di Singgasana PKB

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 09:38 WIB
Muktamar 'Biasa' dan Langgengnya Cak Imin di Singgasana PKB Muhaimin Iskandar kembali terpilih sebagai Ketum PKB hingga 2024. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf).
Badung, CNN Indonesia -- Tak ada kejutan yang berarti dalam gelaran Muktamar V Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang digelar di Nusa Dua, Bali. Muktamar untuk memilih tokoh yang pantas mengisi kursi Ketua Umum PKB itu pun berjalan 'biasa'. Prediksi Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin untuk kembali menghuni singgasana di parpol yang didirikan sejak tahun 1998 itu spun udah bisa ditebak sedari awal.

Cak Imin, yang kini memilih disapa Gus AMI, terpilih kembali secara aklamasi. Pemilihan Ketum PKB dalam gelaran Muktamar semalam pun berujung tanpa ada dinamika yang berarti.

Padahal, Cak Imin sendiri sudah mengakui dan meminta maaf kepada para peserta Muktamar atas kegagalannya tak bisa menjadi calon wakil presiden di Pilpres 2019 kemarin. Kala itu, Cak Imin memang gencar bersosialisasi dan berkampanye agar dirinya bisa dipinang sebagai cawapres.


Meski begitu, para peserta Muktamar seraya tak mempersoalkannya. Tak ada penolakan ataupun kritik dari para peserta Muktamar terhadap kinerja Cak Imin selama ini.

Semuanya justru menerima laporan pertanggungjawaban kepengurusan DPP PKB periode 2014-2019 dimana Cak Imin yang menjadi nahkodanya.
Setelahnya, proses penetapan Cak Imin pun berlangsung mulus. Sebanyak 34 Dewan Pengurus Wilayah dan 510 Dewan Pengurus Cabang PKB se-Indonesia yang hadir kompak dalam satu 'kor' setuju Cak Imin kembali menjadi Ketum PKB untuk lima tahun ke depan.

Ketua DPP PKB, yang sedang bertindak sebagai pemimpin sidang Ida Fauziah langsung menetapkan Cak Imin sebagai Ketua Umum PKB dengan mengetok palu sidang sebanyak tiga kali.

"Kita tetapkan bahwa Ketua Umum PKB 2019-2024 dan sekaligus sebagai mandataris tunggal Muktamar PKB adalah Muhaimin Iskandar dapat disetujui?" tanya Ida

"Setujuuuuu," kompak peserta Muktamar.

Celah dan Kekosongan Pengaruh Gus Dur


Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai terpilihnya kembali Cak Imin menandakan masih kuatnya sosok Keponakan Presiden ke-4 RI Abdurahman Wahid alias Gus Dur itu di internal PKB.

"Saya pikir terpilihnya kembali ini lebih pada masih kuatnya sosok Cak Imin di PKB. Kalau kaderisasi PKB masih terjaga lewat jaringan pesantren," kata Wasisto kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/8).

Lebih lanjut Wasisto berpandangan kuatnya pengaruh Cak Imin juga tak lepas dari aspek historis PKB saat ini. Ia menyebut mengendurnya pengaruh Gus Dur dan para simpatisannya di internal PKB sejak 2005 silam membuat PKB kehilangan ketokohan di dalamnya.

Di situ, Cak Imin mengambil celah, yakni mengisi kekosongan pengaruh dan ketokohan Gus Dur guna mengkonsolidasikan kekuasaan yang dimilikinya di internal PKB.

"Mengendurnya pengaruh Gus Dur di PKB sepanjang 2005-2009, menjadi alasan kuat Cak Imin bisa mengkonsolidasikan pengaruhnya secara bebas di internal partai. Sebelumnya Ketum PKB sering gonta-ganti karena intervensi Gus Dur," kata Wasisto.
Muktamar 'Biasa' dan Langgengnya Cak Imin di Singgasana PKBSeluruh kader dari DPW hingga DPC se-Indonesia satu 'kor' setuju untuk memilih kembali Cak Imin sebagai Ketum PKB 2019-2024. (Tim Media PKB).

Selain aspek historis, Wasisto menilai Cak Imin masih memiliki modal kultural politik dimana ia merupakan seorang Nahdliyin tulen dan seorang cucu dari pendiri organisasi Nahdhatul Ulama (NU) Kiai Bisri Samsuri.

Modal itu mampu dikapitalisasi sedemikian rupa oleh Cak Imin agar pengaruhnya tetap terjaga dan tak luntur bagi PKB hingga kini.

"Modal kultural dan sebagai cucu dari ulama kharismatik NU itu yang menjadi faktor kuat ketokohan Cak Imin," kata Wasis.

Pandai Mencegah 'Matahari Kembar' Tanpa Gejolak

Di sisi lain, Muhaimin pandai mengelola faksionalisasi sehingga tak ada 'matahari kembar' di internal kepemimpinan PKB. Salah satunya mampu 'menyingkirkan' para tokoh yang berpotensi mengganggu kekuasaannya di PKB dengan cara yang halus dan tak menimbulkan gejolak.

Diketahui, faksionalisasi di tubuh PKB itu terlihat saat dua mantan Sekjen PKB, yakni Lukman Edy dan Abdul Kadir Karding tak diundang dalam Muktamar V di Bali ini. Keduanya disebut-sebut merupakan pesaing Cak Imin sebagai calon ketum di Muktamar V.

"Cak Imin tidak mau PKB ini terpecah seperti PPP. Hal ini akan mengurangi daya tawar PKB untuk masuk koalisi pemerintahan Jokowi. Karena itulah, penyingkiran faksi rival itu jadi prioritas," kata Wasis.

Terpisah, Pengamat Politik dari Universitas Paramadia, Hendri Satrio mengatakan Cak Imin merupakan politikus yang sangat lihai memainkan perannya untuk selalu dekat dengan rezim penguasa.

Ia mencontohkan kedekatannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati, Ketua Umum Demorkat Susilo Bambang Yudhoyono hingga Presiden Joko Widodo. Pendekatan-pendekatan itu yang membuat Cak Imin dan PKB tetap eksis hingga saat ini.

"Sejak 2005 kedekatan dengan Megawati, kedekatan dengan SBY, dan Jokowi ini yang menjadi faktor menjaga dia," kata Hendri.

[Gambas:Video CNN] (rzr/osc)